A Christmas Carol (Charles Dickens)

Charles Dickens (1843), Illustration by P.J. Lynch (2006)
Walker Books, 2006
Classic Fiction
1-84428-037-3
Whitcoulls – NZD24.99

Mengutip Mr Dickens, buku ini adalah “ghost story of christmas“. Ceritanya jauh dari kisah-kisah Natal yang syahdu dan damai. Ebenezer Scrooge adalah seorang tua kikir yang membenci anak-anak. Di musim dingin yang lebih cepat gelap, Scrooge hanya membolehkan satu lilin kecil untuk menemani juru tulisnya bekerja. Di kantornya tidak ada pemanas, apalagi lampu penerangan yang memadai. Satu hari sebelum Natal, ketika akan tidur, Scrooge mendapat kunjungan dari hantu partner kerjanya yang bernama Jacob Marley. Marley yang telah meninggal beberapa tahun silam memperingatkan Scrooge tentang 3 hantu lain yang akan berkunjung setiap jam berdentang 1 kali pada malam hari. Ketiga hantu ini adalah Ghost of Christmases Past, Ghost of Christmases Present dan Ghost of Christmases Yet To Come.

Ketiga hantu ini membawa Scrooge berkelana melihat kesedihan dan sukacita dari momen Natal yang dahulu pernah ia alami, Natalnya di saat ini, dan momen Natal yang akan datang. Perjalanan yang menembus waktu dan ruang itu sebagian besar menakutkan dan mengusik hati nurani Scrooge yang cinta uang.

Melalui perjalanan mengerikan tersebut baik Scrooge maupun pembaca diajak berkontemplasi tentang nilai dan tradisi Natal yang baik, tentang berbagi kasih dan damai bagi orang lain, menjadi sukacita bagi sesama, tentang mengingat anak-anak yang miskin dan keluarga-keluarga yang tidak beruntung. Saya melihat Natal disini lebih sebagai cultural celebration merujuk pada tradisi dan momen Natal di Inggris pada pertengahan abad ke-19 saat kisah ini ditulis dan dipublikasikan.

Buku yang saya punya adalah versi hardcover yang dilengkapi dengan lukisan-lukisan indah karya P.J. Lynch. Ilustrasinya indah dan halus, membuat saya berkhayal tentang dunia yang ditinggali oleh Tuan Scrooge dan suasana Natal di sana. This book is surely a keeper, bahkan mungkin warisan berharga buat anak cucu saya kelak hahaha… Lebih detail tentang  novel ini bisa dibaca pada laman Wikipedia.

Buku ini sudah sekitar 6 tahun menunggu untuk dibaca dan memang saya sengaja mencari momen Natal sebagai waktu yang pas untuk membacanya. Bisa dibayangkan setiap tahun saya lupa kalau memiliki niat mulia itu sehingga buku ini selalu terlewatkan, dan… tahun ini saya berhasil! Hurrah!!

…that he knew how to keep Christmas well, if any man alive possessed the knowledge. May that be truly said of us, and all of us! As so, as Tiny Tim observed, God bless Us, Every One!

Advertisements

The Boy in the Striped Pyjamas (John Boyne)

John Boyne (2006)
Vintage, 2012
Young Readers Fiction
978-0-099-57286-2
TGA Sency – Rp119,000

Saya lebih dulu menonton filmnya ketimbang membaca bukunya. Filmnya membuat saya menangis semalaman. Selain karena kisahnya menyentuh, visualnya juga mampu mengaduk-aduk pikiran dan perasaan saya. Berbekal pengalaman tersebut, saya membaca buku dengan lebih uptight, lebih berhati-hati menjaga emosi saya supaya tidak kewalahan.

Keluguan Bruno lebih tergambar jelas lewat novel ini. Anak kecil yang saya pikir tadinya sekadar ignorant karena terlalu dimanja, di dalam novel digambarkan dengan lebih baik. Keluguan Bruno memang karena ia berada dalam proteksi orang-orang terdekatnya, dan ia terkondisi untuk selalu berada dalam zona nyaman tersebut sampai ketika ayahnya mendapat promosi untuk memimpin di Out-with dan mereka sekeluarga pindah kesana.

Rasa frustasi membuat Bruno menjadi lebih berani. Ia dan Gretel, kakaknya, belajar dengan seorang guru di rumah. Tidak ada teman bermain yang sebaya. Tidak ada orang dewasa yang meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya tanpa berakhir dengan perasaan tidak enak.

Some things are just sitting there, waiting to be discovered. Other things are probably better off left alone.

Bruno memutuskan untuk menyibukkan diri, mencari jawabannya sendiri, dan melakukan eksplorasi sendirian. Di saat inilah Bruno berkenalan dengan Shmuel, anak lelaki berpiyama garis-garis, bertanggal lahir sama dengannya, yang tinggal di balik pagar berkawat besi.

Meskipun mengambil setting camp Nazi yang memang pernah ada, Mr Boyne juga menggarisbawahi bahwa buku ini adalah tulisan fiksi karena ada banyak hal yang ia reka supaya bisa lebih sesuai dengan jalan ceritanya tanpa mengubah makna dan pesan moral yang ingin ia sampaikan. Lebih detail tentang novel ini bisa dibaca pada laman Wikipedia.

Hotel Vendome (Danielle Steel)

Danielle Steel (2011)
Bantam Dell, 2012
Adult Fiction
978-0-440-24520-9
Books & Beyond PP – Rp149,000

This is a story about a hotel runs by father daughter, Hugues and Heloise Martin. The building was abandoned hotel which then transformed into New York’s most luxurious boutique hotel under Hugues’ management. Politicians, movie stars, rock stars, and rich and famous love to stay there. Hugues has trainings from the best schools in Europe, and he loves working hard and is very passionate about hotels. His daughter Heloise grew up under the care of hotel maids. Guests and hotel staff are used to see Heloise being around the posh hotel following her father or helping the staff. Not long enough until Heloise decided that she wants to follow her father’s steps.

This may not be my first Danielle Steele novel, but surely this is the first in many years. I came to realize why I avoided buying and reading them for so long already. Based on this novel alone, I found the plot so light and predictable, and it is dragging me with long narration. Hugues character is charming, especially because he doesn’t talk much. Well, that’s easy to point: rich, handsome, calm… what’s not charming about it? But Heloise transformation from a sweet little girl, to an excited teenager, and then to a sulky and childish adult, is unrealistic.

However, the hotel knowledge is interesting to read. To know what’s going on inside great hotels, where to pursue the best education, what to look and expect from winning hotels and so on. This novel is not great, and I won’t be harsh by saying it’s bad either. I believe it has the potential, perhaps to be made a drama series, considering that the plot is easy to follow, the story is glittering with the riches and the famous, and the story spans on couple of decades which is long enough to be made series.