Hotel Vendome (Danielle Steel)

Danielle Steel (2011)
Bantam Dell, 2012
Adult Fiction
978-0-440-24520-9
Books & Beyond PP – Rp149,000

This is a story about a hotel runs by father daughter, Hugues and Heloise Martin. The building was abandoned hotel which then transformed into New York’s most luxurious boutique hotel under Hugues’ management. Politicians, movie stars, rock stars, and rich and famous love to stay there. Hugues has trainings from the best schools in Europe, and he loves working hard and is very passionate about hotels. His daughter Heloise grew up under the care of hotel maids. Guests and hotel staff are used to see Heloise being around the posh hotel following her father or helping the staff. Not long enough until Heloise decided that she wants to follow her father’s steps.

This may not be my first Danielle Steele novel, but surely this is the first in many years. I came to realize why I avoided buying and reading them for so long already. Based on this novel alone, I found the plot so light and predictable, and it is dragging me with long narration. Hugues character is charming, especially because he doesn’t talk much. Well, that’s easy to point: rich, handsome, calm… what’s not charming about it? But Heloise transformation from a sweet little girl, to an excited teenager, and then to a sulky and childish adult, is unrealistic.

However, the hotel knowledge is interesting to read. To know what’s going on inside great hotels, where to pursue the best education, what to look and expect from winning hotels and so on. This novel is not great, and I won’t be harsh by saying it’s bad either. I believe it has the potential, perhaps to be made a drama series, considering that the plot is easy to follow, the story is glittering with the riches and the famous, and the story spans on couple of decades which is long enough to be made series.

The Not So Amazing Life of @Amrazing (Alexander Thian)

Alexander Thian (2012)
Gagas Media, Cetakan kedua 2012
Memoir
978-0-14-240370-9
TGA Sency – Rp43,000

Buku kocak ini adalah kumpulan pengalaman penulisnya menghadapi pelanggan-pelanggan ajaib sewaktu menjadi penjaga konter hape di sebuah mal. Saya nggak tahu, mana yang lebih ajaib, para pelanggannya yang memang serba aneh, atau penjaga konternya yang selama melayani masih sempet menganalisa pun mengigat-ingat kisahnya sehingga bisa dibukukan seperti ini.

Tidak ada yang tidak menarik dari buku ini. Saya suka caranya bercerita, penggambaran suasana dan emosi para pelaku kisahnya, ekspresif, (sepertinya) tidak berusaha untuk melucu, tapi sukses membuat tertawa terbahak-bahak. Dibalik kekonyolan dan keanehan para pelanggan maupun si empunya konter, kisah-kisah ini kaya akan potret kehidupan masyarakat yang ada di sekitar kita komplit dengan analisa dan renungan singkat dari penulisnya. Mulai dari abege seronok dengan goyangan pantura, anak manja dengan tabiat parasit, pejabat pemerintahan yang sok penting dan sok kaya, artis yang merasa perlu “survey” popularitas sampai ke konter hape, termasuk juga karakter-karakter orang baik yang ternyata masih ada terselip diantara profil para hedonis dan orang-orang narsis.

Mas Bambang adalah anomali dari semua judgement yang beredar. Kumal bukan berarti miskin atau kampungan. Sederhana bukan berarti tak canggih. Ngondek bukan berarti cong. Tampang jelek bukan berarti istrinya jelek juga. Bertampang rada preman bukan berarti penjahat. Dan pamungkasnya: penampilan dan gaya yang di bawah “standar”, bukan berarti bodoh. (Hal. 115)

Menurut saya buku ini serba pas-pasan. Pas saya kangen baca buku lokal yang nggak menye-menye. Pas juga saya sedang cari bacaan yang bisa menghibur tanpa sok gaul dan sok lucu. Pas saya sudah mau balik ke kantor dari acara makan siang di sebuah mall yang agak jauh dari kantor. Pas pula mata saya menatap sampulnya yang berwarna terang. A gem!

The Cupcake Queen (Heather Hepler)

Heather Hepler (2009)
Speak, 2010
Teens Fiction
978-0-14-241668-6
Kinokuniya PIM – Rp91,000

Don’t be misled by the cover, which looks deliciously pretty by the way. I was expecting a quick light chicklit-type of reading when I picked up this book from the store this evening. It’s everything but that. I wish the cupcakes on the cover were in choco or mint cream instead.

Penny moves to Hog’s Hollow with her mom, leaving her friends and dad in Manhattan. Being a girl from big city, life in Hog’s Hollow is so much different. More so now with mom opens a cupcake store and Penny has to help. On the first party she assisted, it was disastrous and a girl of an influential person in town sworn her enemy.

While struggling with the new life hoping to go back to NYC and reunited with her dad, Penny also meets with new friends, and growing an interest for a mysterious boy who runs on the beach. But somehow her relationship with her mother goes distant each day.

I like the story and the fact that it didn’t give easy solutions for the problems and dramas. Everyone has problem and they need to make important decision in their life. Including Penny. She learns to move forward, begins to accept her new life, even fights for what she believe is right. It’s a cute story, definitely not shallow, still a quick reading, but highly recommended for teens.

The Wedding Games (Fanny Hartanti)

Fanny Hartanti
GPU, Desember 2010
Fiksi Chicklit
978-979-22-6476-0

Bazaar Gramedia – Rp24,000

Novel ini mengingatkan saya pada novel “Tea for Two” yang pernah saya baca. Sama-sama berkutat pada hubungan pernikahan. Bedanya, di pernikahan yang ini saya melihat 2 orang yang saling mencintai tapi terlalu egois untuk berbesar hati akan keberadaan pasangannya. Sepasang orang baik, mapan dan berkarir bagus. Tidak ada yang salah disana. Karir istri yang (lebih) melesat, belum hadirnya anak diantara mereka, ditambah berkurangnya porsi kebersamaan yang mereka luangkan untuk pasangan, menjadi sederet alasan yang mereka pakai untuk menghambarkan hubungan yang mereka miliki.

Buku yang menarik dengan karakter yang juga bisa dengan mudah kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Tapi saya mencari sesuatu yang lebih dari kisah ini, sesuatu yang lebih mendalam, mungkin lebih dramatis, atau kalau boleh berandai-andai… inspirasi bagi hubungan (yang mengarah pada) pernikahan. Rasanya terlalu biasa untuk seorang Fanny Hartanti.

The Street Lawyer / Pengacara Jalanan (John Grisham)

John Grisham (1998)
GPU, Cetakan kelima 2010
Fiksi 
978-979-22-6191-2
Gramedia – Rp50,000

Tidak banyak yang saya ingat dari novel ini, selain kisah tentang seorang lawyer yang sedang bersinar dalam karir, berbalik menjadi seorang pencuri, dan memilih karir baru sebagai pengacara bagi orang-orang di jalanan, bagi para geladangan. Bisa jadi saya akan memiliki kesan lain, jika saya membacanya ketika buku ini baru diterbitkan, tahun 1998. Untuk bacaan “masa kini”, setelah saya terlalu banyak menonton film action, jalan cerita novel ini menjadi terlalu klise dan terlalu mudah ditebak. Saya belum sempat bersimpati dengan tokoh utamanya, Michael, dan tidak ada cukup chemistry yang dapat membuat saya bisa join force dengan pilihan martir yang Michael lakukan. It could have been better. Maybe in a different timing.

Berikut sinopsis yang diberikan Gramedia:

Perjalanan karier Michael lancar. Kedudukannya terus meningkat di Drake dan Sweeney, biro hukum raksasa di Washington, D.C., yang mempunyai delapan ratus pengacara. Gajinya tinggi dan semakin bagus; tiga tahun lagi ia akan menjadi partner. Ia bintang yang sedang menanjak, tak pernah menyia-nyiakan waktu, tak pernah istirahat, tak pernah beramal pada pengemis. Tak ada waktu untuk hati nurani. (www.gramedia.com)

 

Twenties Girl / Gadis Charleston (Sophie Kinsella)

Sophie Kinsella (2009)
GPU, Juni 2010
Fiksi Chicklit
978-979-22-5872-1
Bazaar Gramedia – Rp36,000

Saya tidak terlalu familiar dengan novel-novel Ms Kinsella, selain yang saya tonton di sebuah film dan “I’ve Got Your Number” yang saya beli beberapa bulan silam. Namun ada kesamaan mendasar dari setiap tokoh utamanya, perempuan muda hopeless, sedikit bermasalah, yang pada akhirnya bisa outgrown their problems dan keluar sebagai pemenang. So chicklit! :)

Saya suka ramuan kisah yang dipakai Ms Kinsella di dalam novel Twenties Girl: hantu, sejarah seni dan cerita kriminal. Lara Lington dalam keadaan terpuruk secara karir dan asmara ketika Great-aunt Sadie meninggal di usia 105. Tidak ada yang mengenal secara dekat dengan nenek-bibinya itu, karena sejak 20 tahun terakhir beliau tinggal di panti jompo. Upacara pemakamannya sudah hampir selesai ketika “hantu” Sadie menampakan diri dan berteriak-teriak mencari kalung yang hilang. Hanya Lara yang bisa merasakan, melihat dan mendengar suara Sadie.

Tokoh Sadie digambarkan sangat sanguin. Bersemangat, mencintai hidup, dan sedikit nekat. Berbeda sekali dengan cucunya, Lara, yang melankolis. Sadie dengan segala caranya yang seringkali manipulatif meminta Lara untuk membantunya mencari kalung yang hilang. Meskipun menyebalkan, bagi saya tokoh Sadie lebih menarik dan merupakan kekuatan cerita ini. Lara dan kehidupannya hanya bumbu penyedap. Kalung yang dicari bukan sekadar kalung berliontin capung. Kalung tersebut menguak banyak kisah lama, kisah cinta abadi yang tidak kesampaian, begitu juga kisah penipuan.

Novel ini lumayan tebal. Untuk bisa menikmatinya, saya berharap pembaca lain mau sedikit repot untuk paling tidak sampai ke Bab 4. Ketiga bab awal sedikit membosankan, dan bisa jadi malah memadamkan minat membaca. Kalau mau sedikit nekat, lompati saja ketiga bab itu, dan kembali lagi ketika ceritanya sudah lebih berwarna dan seru. Saya suka sampul terbitan Gramedia yang saya miliki, glamour dan feminin. Cocok sekali sebagai penggambaran (hantu) Sadie.

PS: For the real “Ed” out there, please stand up! Ouch. Ouch. Ouch.

Romancing Mr Bridgerton / Romansa Mr Bridgerton [Julia Quinn]

Julia Quinn (2000)
GPU, Mei 2010
Fiksi Dewasa
978-979-22-5748-9
Bazaar Gramedia – Rp30,000

Colin berusia 33 tahun, usia yang cukup matang untuk mencari istri. Tapi ia bahkan tidak punya gambaran tentang perempuan seperti apa yang ia cari. Perjalanannya berkeliling dunia adalah salah satu caranya menghindar dari hidup yang seperti tanpa tujuan. Ia ingin seperti abangnya, Anthony the Viscount, yang memiliki tanggung jawab besar. Atau abang keduanya, Benedict, yang memilih seni lukis sebagai jalan hidup. Image dirinya sebagai sebagai pria memikat berkepala kosong adalah kesalahan si Lady Wistleblower, yang tidak pernah absen menyebut nama Colin dalam kolom gosipnya itu.

Masih melanjutkan kisah dari klan Bridgerton, buku ini khusus untuk anak ke-3, Colin Bridgerton. Sekadar perkenalan singkat, klan Bridgerton memiliki 8 anak yang dinamai sesuai urutan alfabet. Ayah dan ibu mereka adalah bangsawan yang lebih peduli pada cinta dan kasih sayang, ketimbang urusan protokoler dan gelar. Tentunya saya tidak akan membeli kesemua buku klan Bridgerton ini. Pertama, karena 8 buku adalah jumlah yang terlalu banyak untuk sederetan novel romansa dari satu penulis. Kedua, karena kesan mendalam yang saya dapat dari The Viscount Who Loved Me, tidak lagi saya temukan di buku ini. Tidak ada yang bisa menjamin keenam buku lainnya akan memiliki karisma yang baik.

Melanjutkan buku sebelumnya, tokoh-tokohnya masih sama. Hanya fokusnya yang berpindah dari anak pertama ke anak ketiga. Dan semua kisah mereka masih tetap bergulir di sela-sela kolom gosip mingguan yang ditulis Lady Whistleblower yang bermulut tajam itu. Kepulangan Colin dari Yunani menjadi topik hangat yang diangkat si penulis misterius, khususnya untuk season perjodohan tahun ini, 1824.

Saya tidak terlalu klik dengan buku ini. Kisahnya bertele-tele. Saya berharap banyak pada Colin, hanya untuk kecewa karena ia terlalu sering tidak yakin pada dirinya sendiri. Penelope Featherington, gadis yang akhirnya dekat dengan Colin, merupakan tokoh yang tidak menyolok di buku sebelumnya, tidak menarik sama sekali. Juga agak sulit bagi saya untuk menganggapnya sebagai ‘bintang’ dalam kisah ini. Ditambah lagi dengan pengungkapan indentitas Lady Whistleblower yang seharusnya menjadi klimaks yang sempurna untuk semua kisah klan Bridgerton, akhirnya jadi terasa hambar dan antiklimaks. Wrong timing, wrong book.