Romancing Mr Bridgerton / Romansa Mr Bridgerton [Julia Quinn]


Julia Quinn (2000)
GPU, Mei 2010
Fiksi Dewasa
978-979-22-5748-9
Bazaar Gramedia – Rp30,000

Colin berusia 33 tahun, usia yang cukup matang untuk mencari istri. Tapi ia bahkan tidak punya gambaran tentang perempuan seperti apa yang ia cari. Perjalanannya berkeliling dunia adalah salah satu caranya menghindar dari hidup yang seperti tanpa tujuan. Ia ingin seperti abangnya, Anthony the Viscount, yang memiliki tanggung jawab besar. Atau abang keduanya, Benedict, yang memilih seni lukis sebagai jalan hidup. Image dirinya sebagai sebagai pria memikat berkepala kosong adalah kesalahan si Lady Wistleblower, yang tidak pernah absen menyebut nama Colin dalam kolom gosipnya itu.

Masih melanjutkan kisah dari klan Bridgerton, buku ini khusus untuk anak ke-3, Colin Bridgerton. Sekadar perkenalan singkat, klan Bridgerton memiliki 8 anak yang dinamai sesuai urutan alfabet. Ayah dan ibu mereka adalah bangsawan yang lebih peduli pada cinta dan kasih sayang, ketimbang urusan protokoler dan gelar. Tentunya saya tidak akan membeli kesemua buku klan Bridgerton ini. Pertama, karena 8 buku adalah jumlah yang terlalu banyak untuk sederetan novel romansa dari satu penulis. Kedua, karena kesan mendalam yang saya dapat dari The Viscount Who Loved Me, tidak lagi saya temukan di buku ini. Tidak ada yang bisa menjamin keenam buku lainnya akan memiliki karisma yang baik.

Melanjutkan buku sebelumnya, tokoh-tokohnya masih sama. Hanya fokusnya yang berpindah dari anak pertama ke anak ketiga. Dan semua kisah mereka masih tetap bergulir di sela-sela kolom gosip mingguan yang ditulis Lady Whistleblower yang bermulut tajam itu. Kepulangan Colin dari Yunani menjadi topik hangat yang diangkat si penulis misterius, khususnya untuk season perjodohan tahun ini, 1824.

Saya tidak terlalu klik dengan buku ini. Kisahnya bertele-tele. Saya berharap banyak pada Colin, hanya untuk kecewa karena ia terlalu sering tidak yakin pada dirinya sendiri. Penelope Featherington, gadis yang akhirnya dekat dengan Colin, merupakan tokoh yang tidak menyolok di buku sebelumnya, tidak menarik sama sekali. Juga agak sulit bagi saya untuk menganggapnya sebagai ‘bintang’ dalam kisah ini. Ditambah lagi dengan pengungkapan indentitas Lady Whistleblower yang seharusnya menjadi klimaks yang sempurna untuk semua kisah klan Bridgerton, akhirnya jadi terasa hambar dan antiklimaks. Wrong timing, wrong book.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s