Batik Sebuah Lakon [Iwan Tirta]


Iwan Tirta (2009)
Gaya Favorit Press
Softcover Lipat, 2009
Memoar/Biografi
978-979-515-428-0
TGA Sency – IDR 350,000

Sejak dulu aku menyukai batik, menyukai corak motifnya yang terlihat seperti sebuah kisah, bahkan menyukai bau kain batik yang khas. Ketika blogwalking beberapa waktu lalu aku mengetahui tentang buku ini dan sangat tidak sabar untuk segera memilikinya. Aku berharap buku ini bisa memberiku sedikit pencerahan tentang batik Indonesia, apalagi buku ini ditulis oleh Iwan Tirta yang tersohor, sang maestro batik Indonesia. Dua hari setelahnya, beliau meninggal dunia. Duuuh, nggak tahu kenapa rasanya nyesel banget nggak tahu dari dulu tentang buku ini.

Buku berukuran besar dan tebal ini bercerita banyak tentang perjalanan berkarya Iwan Tirta menciptakan dan melestarikan batik Jawa tradisional dan membawanya ke dunia internasional. Sangat menarik tentu saja ketika almarhum Iwan Tirta memilih untuk fokus berbisnis batik, meninggalkan latar belakang pendidikan formalnya sebagai lawyer yang saat itu juga sangat cemerlang dan menjanjikan. Iwan Tirta tidak sekadar menjual batik, tapi beliau menciptakan desain, memperkaya khasanah batik, bahkan membatik dengan tangannya sendiri, menjadikannya sebagai seniman batik dan budayawan yang sesungguhnya.

Desain-desain batik Iwan Tirta kaya akan ragam motif dan dibuat diatas pelbagai bahan kain, sehingga tampilannya cantik, modern dan bercita rasa tinggi. Yang mengagumkan, dalam mencipta, beliau tidak pernah meninggalkan pakem-pakem batik Jawa tradisional yang sudah ada sejak dulu kala. Ini yang membuat batik Indonesia berbeda dengan batik lain. Batik mungkin mudah untuk ditiru, tapi cita rasa dan batik yang sarat makna hanya ada di seniman Indonesia.

Pada pembukaan APEC 1994, Iwan Tirta mendapat kehormatan untuk mendesain batik untuk dipakai para kepala negara dan pemerintahan. Terlihat bahwa seorang Iwan Tirta tidak hanya mendesain tapi memikirkan hingga ke detail corak yang akan dipakai setiap petinggi tersebut dan menggabungkannya dengan pakem batik Jawa untuk mendapat motif-motif baru yang unik dan megah. Bunga anggrek untuk PM Singapura, unsur seruni dan sakura untuk PM Jepang, daun-daun maple untuk PM Kanada, hingga ke motif pakis dan bunga Lily untuk PM Selandia Baru. Luar biasa! Kekaguman terhadap beliau rasanya tak ada habisnya sepanjang buku ini. Inilah salah satu alasan mengapa Iwan Tirta adalah maestro.

Buku ini ditulis oleh Iwan Tirta sendiri sehingga terasa pribadi dan hangat karena beliau menulis sebagai orang pertama yang menceritakan kembali pengalaman hidup dan perjalanan batin, serta berbagi ilmu dan pencapaian hidup beliau bersama batik kepada para pembaca. Karenanya, wajar kalau banyak kalimat yang tidak mengikuti pola eyd seperti buku-buku komersil pada umumnya. Susunan bab dalam buku ini disusun selayaknya lakon wayang, dimulai dari Talu/Pembuka, Adeg Jejer/Keraton, Adeg Sabrang/Pengaruh Luar, Gara-gara/Kemelut, dan Tancep Kayon/Penutup. Sangat menarik.

Beberapa kesalahan yang lolos dari proses editing memang mengganggu proses membaca dan membuat buku ini terkesan mengejar target. Padahal, untuk buku sebagus dan semahal ini, aku mengharapkan tidak hanya kemasan dan ide premium tapi juga keindahan sekelas pribadi yang ditampilkan. Yang paling aku sayangkan, beberapa gambar foto sepertinya dipaksakan untuk memenuhi bidang cetak yang besar sehingga gambar menjadi ‘pecah’. Kalau sudah begini, estetika layout tidak lagi penting karena toh gambarnya sendiri tidak lagi indah. Untungnya, porsi gambar-gambar sempurna dari batik-batik megah dan menawan jauh lebih banyak, sehingga buku ini tetap worth keeping. Mudah-mudahan penerbit bisa mempetimbangkan untuk membuat revisi atau menyempurnakan buku ini untuk pencetakan selanjutnya.

Berbicara batik, sekarang aku tahu batik yang aku kurang suka itu namanya Batik Semen, contohnya seperti motif batik Korpri. Batik Semen yang indah bisa dinikmati pada seragam karyawan Garuda Indonesia karena paduan warnanya yang adem dan motifnya tidak mencolok. Yang paling aku suka adalah Batik Lereng, Parang Rusak, Lokcan dan Lurik. Terima kasih pada Bapak Iwan Tirta karena telah berbagi melalui buku ini, pengetahuanku tentang batik bertambah banyak sekali!

7 thoughts on “Batik Sebuah Lakon [Iwan Tirta]

  1. aku jg suka batik…
    meski tdk tahu nama2 coraknya, aku suka yg coraknya kecil, simetris, rapat dan memenuhi seluruh kain… :)

    saya belum membaca buku ini, hanya sempat membaca resensinya pada media lain. apakah buku ini dominan bercerita tentang batik, ketimbang biografi iwan tirta ?

    terima kasih artikelnya, bermanfaat..
    salam.. :)

    • hi Daeng, terima kasih sudah mampir. meskipun intinya biografi Iwan Tirta tapi batik juga dominan karena merupakan bagian dari hidupnya. cerita dan foto batik yang dipakai tentu bagian dari koleksi beliau ya… corak yang dimaksud apakah lereng? aku juga suka itu :)

    • sepertinya sama, hanya beda bahasa. punya saya bahasa indonesia, yang di goodreads bahasa inggris.
      di gramedia masih ada. kalau kamu nggak di jakarta, silakan coba order online saja. lebih mudah dan murah. thanks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s