Tetralogi Ingo 1 & 2: Ingo, The Tide Knot [Helen Dunmore]


Helen Dunmore (2005)
Gramedia
Juni 2009
Novel Anak-anak/Remaja
978-979-22-4670-4

Novel-novel ini aku pinjam dari Lusy, teman kantorku. Aku bahkan nggak pernah tahu keberadaan mereka kalau bukan Lusy yang kekeuh surekeuh membeli buku pertama Ingo di bazaar kantor. So, first of all, makasih ya Uch!

Ada kisah terkenal di Senara tentang puteri duyung Zennor yang jatuh cinta pada manusia. Karena ia tidak bisa hidup di daratan, ia membawa kekasihnya untuk masuk ke lautan. Cerita ini diberitakan secara turun-temurun. Ketika Mathew Trewhella juga menghilang di suatu malam, Sapphire percaya ayahnya masih hidup entah dimana, meskipun Mum dan seluruh Senara yakin benar kalau beliau mati tenggelam ketika kapalnya dihamtam ombak. Kepergian Dad mengubah hidup Sapphire dan Conor, terutama Mum yang sudah sejak lama tidak mau bersahabat dengan laut.

Ketika Sapphire mengikuti Conor, kakak laki-lakinya, yang mulai sering berlama-lama di laut bersama seorang gadis tak dikenal, Sapphire menemukan Ingo, dunia bawah laut yang misterius namun sangat memikat, dan Mer, kaum penghuni Ingo. Panggilan dan pikat Ingo makin kuat setiap hari dan Sapphire merasa tidak berdaya untuk menjauhinya. Sekarang Sapphire tahu ia berdarah setengah Mer dan setengah manusia sehingga ia bisa hidup di lautan maupun di tanah berganti-gantian. Ini akan menjadi alat baginya untuk mencari Dad.

Buku pertama, Ingo, adalah perkenalan dengan tokoh-tokoh novel maupun dengan Ingo sendiri. Setiap kali Sapphire menyelam kedalam Ingo, ada perasaan aneh yang aku alami, seperti sesuatu yang misterius, jahat dan tidak pasti. Penyelaman ke Ingo selalu membuatku merinding apalagi membayangkan dalam dan gelapnya lautan yang tak berujung itu. Buku pertama memang tidak seistimewa yang berikut-berikutnya, tapi cukup berkesan hingga aku tertarik untuk membaca lanjutannya.

Helen Dunmore (2006)
Gramedia
Agustus 2009
Novel Anak-anak/Remaja
978-979-22-4883-8

Kira-kira setahun setelah kejadian Dad menghilang, Mum, Sapphire dan Conor pindah ke St. Pirans. Roger, pacar baru Mum, juga tinggal dekat mereka. Sapphire semakin sering pergi ke Ingo sendirian atau untuk bertemu Faro, sahabatnya, sedangkan Conor lebih suka mengabaikan panggilan Ingo dan bertahan di daratan. Hawa permusuhan antara Tanah dan Ingo semakin kental dan ini menyulitkan Sapphire karena ia seperti dipaksa harus memilih.

Di Ingo sendiri sedang terjadi kegelisahan yang luar biasa. Simpul Ombak yang dijaga Saldowr, guru bijaksana Ingo, mulai menggeliat ingin melepaskan diri. Banyak diantara kaum Mer yang mendukung Simpul Ombak untuk menghancurkan daratan. Saldowr meminta Sapphire dan Conor untuk membantu kaum Mer karena ia tahu keduanya adalah anak-anak istimewa yang bisa membantu Tanah dan Ingo tanpa harus memilih salah satunya.

Buku kedua, The Tide Knot alias Simpul Ombak, berorientasi kepada hubungan tak akur antara Tanah dan Ingo, antara kaum Mer dan kaum Manusia. Tapi, semuanya harus bersatu untuk menjaga keseimbangan alam. Disinilah peran tokoh-tokoh utamanya dibuat lebih action-packed. Sapphire bahkan sampai ‘terlempar’ ke dasar laut yang gelap, penuh tekanan air yang kuat dan kepekatan yang bisa mengosongkan isi pikiran. Bagian terseram sudah pasti ketika Simpul Ombak terlepas dari penjagaan Saldowr dan ombak datang bergulung-gulung dengan kekuatan dashyat. Tsunami. Segalanya hancur dan terendam, bahkan isi lautan pun rusak dan porak-poranda.

Segala sesuatu tentang lautan selalu memikat dan misterius, mungkin karena kita tidak akan pernah benar-benar bisa memahami dan mengetahui isi, sifat maupun kedalamannya. Laut yang tenang pun bisa menyimpan sesuatu yang jahat, termasuk arus liar maupun ombak yang tidak terlihat. Membaca novel-novel ini merupakan pengalaman yang membuat deg-degan, aneh namun juga mengasyikan. Kita pun berkenalan dengan banyak hewan dan anemon laut yang unik, baik, sangar, kejam dll. Cobain deh!

Buku ketiga, The Deep alias Dasar Laut, juga sudah diterbitkan oleh Gramedia pada Januari lalu. Buku keempat, The Crossing of Ingo, diterbitkan pertama kali oleh HarpersCollins tahun 2008, namun belum diterjemahkan ke Bahasa. Mungkin masih dalam proses?

16 thoughts on “Tetralogi Ingo 1 & 2: Ingo, The Tide Knot [Helen Dunmore]

  1. himawarie says:

    yap! setuju…! ingo benar-benar telah membuat saya juga terpana. gaya penceritaannya unik dan asyik. keren!

  2. Trixie Peni says:

    Ingo emang bagus banget. Aku udah enam kali baca novel-novelnya… tapi sekarang masih gencar nyari The Crossing of Ingo…. mudah2an ketemu cepet… udh penasaran ampe bulu kudukku pd merinding semua…

  3. Aku juga sukaaaaa sayang buku ketiga dan keempatnya lamaaa yah keluarnya …hiks…hiks….
    Makasih reviewnya ^^ *hugs*

    Aku lagi ngikutin seri peri-nya Melissa Mar – The Wicked Lovely, Ink Exchange dan Fragile Eternity.

    Aku dah baca Laura K Hamilton – Anita Black series and Merry Gentry.
    Juga Sookie Stackhouse dari Charlaine Harris ^^b

  4. desy nurlela says:

    buku ke 1 dan 2 dah terbit ya dlm bahasa indonesia ???
    dimana bisa dapatnya ?? pengen juga baca tapi gak ketemu”… :-(

  5. Aether says:

    Tulisan yang menarik.

    wah, ternyata Ingo ini buku lawas yah? Aku baru nemu di soft opening Gramedia di salah satu mall baru beberapa waktu lalu. Kirain masih baru, karena di TGA yang rutin dikunjungi, buku ini tidak pernah ada.

    Sesuai bahasanmu, sudah ada 3 seri di rak. Aku cuma beli yang pertama, berhubung masih coba-coba. Dan kesan pertamanya: sangat unik dan menarik! Jadi ngga sabar untuk baca kelanjutan2nya. Apa iya, tidak semenarik yang pertama? Jadi berkurang deh semangatnya :p

    Dalam Ingo, penghuni laut disebut “kaum Mer”, dan bukannya “putri duyung”. Padahal dalam bahasa inggris, bukannya “Mermaid” juga bisa diartikan sebagai “kaum Mer” yah? Jadi penasaran dengan istilah aslinya :)
    Bisa bantu? :)

    • Hi Aether, justru di atas aku bilang setelah baca lanjutannya, buku I jadi seperti biasa2 saja karena sudah ketemu yg lebih istimewa di bagian-bagian berikutnya. Padahal waktu belum baca yang lain, buku I sukses bikin penasaran! Intinya, nggak nyesel baca Ingo. Buku ke-4 juga sudah lama beredar, hanya belum sempat aku share di blog. Menyoal sebutan Mer, kalau aku baca di Wikipedia sebutannya juga Mer. Mer disini sebagai kaum, bukan hanya mermaid yang kalau di bhs Inggris maid konteksnya lebih ke perempuan dan di bhs Indonesia selalu diterjemahkan sebagai putri duyung.

      • Aether says:

        Ooo..salah baca yah. Kalau begini jadi yakin deh untuk melengkapi koleksinya!
        Thanks for the review!

        Ngga coba baca Icylandar? Kalau gemar fiksi fantasi, khususnya tentang kaum elf, buku ini menarik. Fiksi fantasi terbaik karya anak negeri (menurutku sih… :))

  6. inggrid says:

    saya membacanya saat kelas 7 . dan meminjam di perpustakaan . tapi saya membacanya hanya setengah buku saja karena waktu peminjaman sudah habis . ketika saya ingin meminjam ulang . buku tersebut hilang sampai saat ini . buku ini sangat menarik ada kesan misteriusnya juga.

  7. Herdiana says:

    Hai kak. Makasih buat reviewnya aku udah ada keempat bukunya nih. Dan seru semuaaa. Gilak. Nagih banget. Sampe sampe hampir percaya kalo di bawah laut itu beneran ada dunia INGO hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s