Petualangan Tintin 1-6 [Hergé]



Hergé
Gramedia
Softcover, 2008
Comic
978-979-22-3352-0
Gramedia Grand Indonesia – IDR 36,000 to 44,000

Komik Tintin terbit kembali dengan wajah baru dengan kemasan yang lebih compact. Setiap halamannya kini menggunakan kertas glossy yang tergolong mewah untuk ukuran komik, apalagi kalau kita terbiasa membaca komik Jepang terbitan Elex Media yang konsisten dengan kertas hitam putih seperti koran.

Sejak ‘menemukan’ komik Tintin baru di Pesta Buku Gramedia bulan Juni lalu, aku jadi bersemangat untuk mengumpulkannya satu per satu. Terus terang, dari dulu aku bukan penggemar Tintin dan selalu gagal menikmatinya. Kok kayaknya ceritanya kurang lucu bila dibandingkan dengan Asterix dan Lucky Luke yang bisa dengan mudah membuatku terbahak-bahak, apalagi ditunjang dengan terjemahan yang ‘ngena’ banget.

Nah, kali ini supaya flow-nya enak, aku membaca Tintin sesuai urutan sampul di bagian belakang komik mulai dari “Tintin di Tanah Soviet” sampai yang terakhir kumiliki “Tintin di Negeri Emas Hitam”. Baru sekarang nih, aku ‘ngeh’ kenapa Tintin digemari dan menginspirasi orang untuk jadi wartawan. Tintin adalah wartawan koran Le Petit Vingtieme asal Brussel, Belgia, dan perkerjaannya menuntut dia untuk selalu memburu berita hingga ke luar negeri. Di setiap misi-nya Tintin hampir bisa dipastikan akan dikejar-kejar geng penjahat, entah penjahat baru kenal ataupun penjahat bawaan dari misi sebelumnya. Karna tokohnya hampir selalu sama, pembaca jadi mudah familiar dengan tokoh-tokoh di komik Tintin. Di setiap petualangan, penulis Hergé tidak lupa menyisipkan sindiran-sindiran atau lelucon yang sesuai dengan kultur budaya atau politik tempat Tintin berada.

“Tintin di Tanah Soviet” agak berbeda dari yang lain karena isinya masih hitam putih dan gambarnya masih megal-megol. Penampilan Tintin pun terlihat lebih gempal dan macho dibanding penampilannya di petualangan-petualangan selanjutnya. Tapi jangan salah, Tintin di Soviet ini harus dibaca pertama, apalagi bagi yang belum pernah membaca Tintin sebelumnya dan mau berkenalan secara pas. Biarpun gambarnya megal-megol, ekspresi Tintin yang lugu tapi selalu percaya diri bisa dirasakan disini. Oh iya, nama anjing Tintin bukan lagi Snowy tetapi diganti menjadi Milo sesuai versi Perancisnya (Milou).

“Tintin di Congo” membawa kita bertualang bersama Tintin ke Afrika. Komiknya sudah berwarna dan gambarnya juga sudah seperti yang biasa kita lihat sebelumnya. Di cerita ini Tintin agak ‘sadis’ karena membunuh hewan dengan senapan. Meskipun tidak kalah lucu, tapi aku jadi takut kalau Tintin disomasi grup perlindungan hewan atau para penyayang binatang.

“Tintin di Amerika” harus ‘bersentuhan’ dengan gangster Al Capone penguasa Chicago. Tintin mengejar satu anak buah Al Capone yang bernama Bobby Smiley hingga ke Redskin City tempat suku Indian Barfoot bermukim. Seperti Lucky Luke, Tintin pun harus berhadapan dengan para koboi pencari minyak yang dengan semena-mena mengusir suku Indian dengan paksa dan mengubah tanah mereka menjadi kota moderen dalam hitungan satu malam saja!

Dalam “Cerutu Sang Firaun” sebenarnya Tintin sedang berlibur. Namun seperti biasa, tanpa sengaja ia terseret ke dalam lingkungan penjahat. Kali ini Tintin berkenalan dengan agen polisi rahasia Dupond & Dupont (dulu Thomson & Thompson) dan pedagang keliling Oliveira da Figueira. Yang paling lucu adalah ketika Tintin dimaki-maki Sheik Patrash Pasha di Padang gurun Mesir, Sheik berubah 180% ketika Tintin memberi tahu namanya. Ternyata Sheik adalah penggemar petualangan Tintin! Ia punya komik “Tintin Perjalanan ke Bulan” lho.

Setelah berurusan dengan narkoba di cerita sebelumnya, dalam “Lotus Biru” Tintin masih juga bertemu dengan geng penjahat penyelundup narkoba yang sama, yang juga merajalela di Cina. Di Shanghai, mau tidak mau Tintin ikut terjebak dalam petikaian politik antara Cina-Jepang yang membuatnya dicurigai sebagai mata-mata. Untungnya bos narkoba yang dicari-cari bisa tertangkap, siapa lagi kalau bukan musuh yang berlagak jadi kawan, Tuan Roberto Rastapopoulos! Nama Tintin bisa bersih kembali.

Lanjut ke “Kuping Belah”, Tintin bertualang untuk mencari patung antik yang dicuri dari museum. Patung ini adalah totem milik suku Arumbaya dari pedalaman Amerika Selatan. Pada saat itu Amerika Selatan sedang dalam kondisi revolusi. Pada kemenangan Jenderal Alcazar, Tintin sempat pula diangkat menjadi Kolonel. Ketika terjadi rebutan berlian diatas kapal antara Tintin dan 2 orang penjahat, ketiganya jatuh ke Laut. Tintin berhasil mencapai pelampung penyelamat, sedangkan kedua penjahat terkaget-kaget bertemu dengan malaikat hitam bertanduk. Benar-benar cara yang unik dan tidak terkesan mengerikan untuk menggambarkan kematian :)

Secara umum, Tintin versi baru lebih menarik untuk dikoleksi karena penampilannya lebih cantik dan compact. Mungkin ada yang kurang setuju dengan penggantian nama-nama menjadi lebih condong ke versi bahasa Perancis, apalagi kalau dulunya sudah mengoleksi Tintin juga. Memang ukuran yang mengecil membuat gambar dan teks juga ikutan mengkerut, tapi untungnya masih tetap terbaca dan tidak menggangu. Harga retail berkisar antara Rp45,000 – Rp55,000, akan lebih murah kalau kita membeli di toko buku kecil atau secara online.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s