Death Comes at the End / Ledakan Dendam [Agatha Christie]


Penulis/Author: Agatha Christie (1945)
Penerbit/Publisher: Gramedia
Cetakan/Edition: Kelima, Agustus 2007
Kategori/Category: Fiksi Dewasa
ISBN: 979-22-2910-8

Beli di/Purchased at: BukaBuku.Com
Harga/Price: Rp29,750

Kematian adalah niscaya. Lain ceritanya kalau kematian terjadi karena kesengajaan. Serangkaian pembunuhan dalam satu keluarga terjadi pada dua ribu tahun sebelum masehi karena keserakahan dan kebencian yang mendalam. Harta yang berlimpah selalu dekat dengan kesewenang-wenangan dan juga keserakahan. Kisah ini berlangsung tepatnya di tebing barat Sungai Nil, Mesir.

Kepulangan Imhotep dari sebuah perjalanan bisnis dengan membawa selir muda, Nofret, justru membuka jalan bagi nafsu jahat untuk naik ke permukaan. Nofret adalah seorang wanita muda yang sangat cantik dan juga angkuh. Kebenciannya terhadap keluarga Imhotep tidak ditutup-tutupi dan ia tidak segan-segan menunjukkan kekuasannya dalam mempengaruhi Imhotep untuk “membuang” keluarganya.

Perselisihan antar-perempuan adalah hal biasa, namun akan parah bila dendam mulai mengakar dan bertumbuh disana. Perlahan namun pasti, satu per satu anggota keluarga itu tewas, dimulai dari Nofret sendiri. Saling curiga, saling tuding dan mengutamakan kepentingan sendiri mulai menguasai rumah tangga ini. Satu-satunya harapan adalah dengan mencoba menganalisa siapa yang paling banyak mendapat keuntungan dari semua musibah tersebut: Apakah Henet, si pembantu usil yang suka menjilat? Apakah Kait, si menantu kedua yang tenang namun keras hati? Ataukah si bungsu Ipy yang kecewa karena tidak dijadikan rekanan kerja sang ayah? Renisenb, anak perempuan Imhotep, bersama Esa, neneknya yang juga ibu dari Imhotep, dan Hori, orang kepercayaan Imhotep yang mengawasi pembukuan, bersama-sama mencoba mencari jawaban sebelum semuanya terlambat.

Diluar semua musibah yang terjadi, masih ada individu-individu yang tertinggal dan layak untuk mendapat kesempatan baru dalam kehidupan mereka. Bersamaan dengan kisah tragis di dalam keluarga besar Imhotep, ada pula kuasa cinta yang penuh ketulusan yang tumbuh perlahan. Kematian memang niscaya. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita mempersiapkan diri menyongsong keniscayaan itu. Memelihara perasaan cinta yang tulus bisa menjadi kekuatan dalam menghadapi si nafsu jahat dan menyikapi kekosongan dan kesedihan yang mungkin tak terelakkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s