The Lady and The Unicorn / Lady dan Unicorn [Tracy Chevalier]


Image Hosted by ImageShack.us

Penulis/Author: Tracy Chevalier (2003)
Penerbit/Publisher: Gramedia
Cetakan/Edition: Februari 2007
Kategori/Category: Novel Dewasa
ISBN: 979-22-2520-x

Beli di/Purchased at: TGA Senayan City
Harga/Price: Rp33,000

Penahkah kamu melihat lukisan atau permadani lalu kemudian bertanya-tanya mengapa rupa orangnya dibuat terlihat sedih seperti itu? Apakah orang itu benar-benar ada? Dimana dia sekarang? Mengapa gradasi warnanya terlihat aneh, bukankah ada banyak warna lain yang bisa dipakai? Bagaimana proses lukisan atau permadani ini dibuat? Aku termasuk yang lumayan sering memenuhi kepala dengan pertanyaan-pertanyaan ‘sulit’ seperti itu. Sulit karena tidak semua orang selain pembuatnya yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Belum lagi kalau aku tiba-tiba menempatkan diriku sendiri sebagai tokoh dalam lukisan dan berpura-pura aku adalah bagian dari jalan cerita yang aku kembangkan sendiri, waaah… imajinasi memang tidak ada batasnya!

Ms Chevalier berada kurang lebih dalam pemikiran yang hampir sama ketika melihat keenam permadani “Lady and Unicorn” di Musee National du Moyen Age di Paris. Bedanya, beliau lebih produktif! Rasa ketertarikan, kagum dan juga penasaran membuatnya aktif mencari fakta seputar permadani-permadani cantik ini, lalu kemudian mengembangkannya menjadi sebuah novel yang meskipun fiktif, tetap berada dalam koridor fakta sejarah.

Keenam permadani tersebut memiliki seorang lady dan seekor unicorn di dalamnya, masing-masing dalam posisi yang berbeda-beda. Nicolas de Innocents mendapat order untuk membuat desain permadani-permadani ini untuk menghiasi dinding ruang tamu keluarga Jean le Viste. Le Viste awalnya lebih menyukai gambar peperangan namun istrinya menginginkan sesuatu yang lebih feminin untuk diwariskan kepada putri sulung mereka. Keluarga Le Viste tidak memiliki anak lelaki, sehingga pada akhirnya, semua kekayaan mereka akan dimiliki oleh si sulung Claude le Viste.

Mengapa unicorn? Sepertinya Genevieve de Nanterre, istri Jean le Viste, ibu Claude, telah mendengar rayuan gombal yang dilancarkan Nicolas untuk Claude tentang unicorn yang suka membaringkan kepalanya di pangkuan gadis perawan. Entah untuk menyindir Nicolas atau untuk menghukumnya karena telah lancang menggoda anak gadisnya, Genevieve memutuskan permadani-permadani yang akan dibuat harus memiliki desain Lady dan Unicorn. Adalah tugas Nicolas untuk mengajukan perubahan dan meyakinkan Jean le Viste untuk mengubah gambar pertempuran menjadi gambar unicorn.

Obsesi Nicolas untuk mendekati Claude dituangkannya dalam permadani-permadani tersebut. Wajah Claude menjadi inspirasi untuk tokoh-tokoh lady meskipun tidak terlalu kentara kecuali untuk lukisan dimana Claude memberi makan burung betet dan ia, Nicolas, adalah unicorn tampan yang menggoda. Rasa simpatinya pada Genevieve yang cantik dan kesepian membuat Nicolas melukis pula wajah si nyonya rumah pada salah satu desain permadani.

Pekerjaan membuat permadani-permadani ini bukanlah hal yang mudah. Kehidupan orang-orang yang terlibat di dalam pembuatannya pun ikut berubah. Bengkel tenun Georges de la Chapelle mendapat “kehormatan” untuk menangani order tersebut. Alih-alih mendatangkan uang dan ketenaran, order ini justru membuat keluarga Georges de la Chapelle banting tulang siang malam dan mengabaikan kesehatan mereka. Jean le Viste memajukan tenggat waktu penyelesaian dengan semena-mena dan membayar bengkel Georges dengan upah yang tidak sebanding dengan tekanan yang diberikan. Proses untuk membuat satu permadani tenunan tangan ternyata sulit, memakan waktu dan menguji kesabaran. Tersisip diantara jalan cerita yang menarik, Ms Chevalier sekaligus menunjukan kepada pembaca bagaimana permadani abad pertengahan dibuat. Di akhir kontrak, Georges de la Chapelle dikabarkan menjadi juling!

Di abad pertengahan, gambar-gambar seni merupakan simbol-simbol yang memiliki arti tertentu merujuk pada pesan-pesan moral yang erat dengan agama. Selain bisa diartikan sebagai obsesi dan penghargaan (kalau boleh disebut penghargaan) Nicolas des Innocents pada wanita-wanita Le Viste dan De la Chapelle (pada akhirnya ada 2 Lady lagi yang dirobah menjadi lukisan wajah istri dan anak penenun permadani), atau sebagai simbol-simbol panca indera, permadani-permadani ini pun bisa dilihat sebagai simbol Perawan Maria dan Yesus Kristus. Untuk memberi kesan abad pertengahan yang kuat, Ms Chevalier membagi novelnya dalam bab menggunakan waktu antara Lent-Eastertide (Prapaskah – Masa puasa sebelum paskah) 1490 hingga Septuagesima (70 hari menjelang masa prapaskah) 1492, sebagimana patokan waktu yang (mungkin lazim) dipakai pada kala itu.

Di penghujung novel ada sedikit tambahan catatan dari Ms Chevalier tentang sejarah keluarga Le Viste dan perjalanan permadani-permadani sampai ke Musee National du Moyen Age. Seakan menjawab keingintahuan pembaca yang barangkali penasaran ingin melihat seperti apakah keenam permadani tersebut, tak lupa Ms Chevalier mempersilakan pembaca untuk melihat detail permadani-permadani tersebut di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s