Four Seasons in Belgium [Fanny Hartanti]


 

Penulis/Author: Fanny Hartanti (2006)
Penerbit/Publisher: Gramedia
Cetakan/Edition: Juli 2006
Kategori/Category: Fiksi

ISBN: 979-22-2262-6

Akhirnya jalan-jalan ke PS kali ini aku berhasil menyelinap sebentar ke Kinokuniya untuk membeli novel Indonesia. Sayang pilihannya tidak banyak, hingga kuputuskan saja membeli 2 yang sampul mukanya terlihat menarik!

“Four Seasons in Belgium” bisa dikategorikan sebagai novel chicklit karena (lagi-lagi) ceritanya berkisar tentang seorang perempuan muda yang cantik, ambisius dan tentunya cerdas. Ceritanya mengalir lancar dengan alur yang jelas. Adalah Andin, gadis muda yang baru saja dikirim perusahaaanya untuk bekerja di Belgia. Hidupnya terasa sempurna dengan karir yang menjanjikan, pacar impian yang memabukkan dan juga sahabat-sahabat teladan di sekelilingnya. Tapi apa jadinya bila Andin tiba-tiba positif hamil? Sebagai seorang perempuan Indonesia, keturunan Jawa, yang belum menikah, kabar kehamilan ini sudah tentu tidak bisa ditanggapi sebagai anugerah.

Apakah memang hidup sebagai perempuan lebih susah karena selalu berhadapan dengan pilihan-pilihan sulit? Atau justru perempuan cenderung mempersulit keadaan dengan selalu menggunakan hati dan perasaan dalam membuat pertimbangan. Lalu, apakah berarti para lelaki tidak menggunakan perasaan mereka sehingga mereka mudah saja membuat keputusan?

Ditengah kesempurnaan dunia barunya Andin harus memilih antara karir dan anak, antara membesarkan anak sendirian dan melenyapkan kandungannya, antara bertahan pada cinta yang menyakitinya dan membiarkan cinta baru untuk berkembang. Yang lebih sulit tentu adalah bersikap konsekuen dengan pilihan dan yang akan ia buat.

Andin adalah tipikal cewek metropolitan pembaca setia majalah Cosmo yang moderen itu. Bisakah majalah populer itu membantunya menyelesaikan masalah? Hidup di negeri orang memang terasa menyenangkan karena segala sesuatunya berbeda dengan yang kita miliki di negara sendiri. Tekadang suasana bisa menjadi dilematis karena keinginan mata berbenturan dengan nurani yang terbentuk dengan cara kita dibesarkan.

Dengan cara bercerita yang asyik, penulis Fanny Hartanti berhasil menggiring pembacanya untuk menyimak baik-baik jalan cerita novel ini dan menikmati suasana Eropa yang eksotis (tolong jangan protes karena menurutku eksotika bukan hanya monopoli negara-negara Asia). Ending yang melenceng dari standar chicklit adalah salah satu kekuatan novel ini dan menyisakan sedikit rasa penasaran “Mungkinkah Andin bisa bertahan dengan pilihannya ketika dihadapkan pada publik tanah air yang belum terbiasa dengan segala sesuatu yang ekstrem?”

Salut buat Fanny atas novel perdana ini. Cara menulisnya seperti buku harian tapi tidak slengean dan gampangan. I wish I could write my diary as good as this, hahahaha… Hanya aku sedikit bingung, kenapa ya judulnya tidak diindonesiakan saja? Toh, menurutku, makna dan momennya tidak akan bergeser.

One thought on “Four Seasons in Belgium [Fanny Hartanti]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s