Forest of the Pygmies [Isabel Allende]


Penulis/Author: Isabel Allende (2004)
Penerbit/Publisher: Harper Perennial
Cetakan/Edition: 1st, 2005
Kategori/Category: Fiction
ISBN: 0-00-719964-3

Hore!! Akhirnya tamat juga baca buku dan seri ini. Menamatkan buku yang satu ini harusnya sudah aku lakukan sejak 3 hari lalu, tapi karena sibuk, halaman-halaman terakhirnya baru terbaca ketika aku sudah di dalam pesawat menuju LA kemarin :) Buku ini adalah buku terakhir dari trilogi “City of the Beast”, dan mungkin merupakan novel remaja/kanak-kanak terakhir yang ditulis Allende. Beliau rupanya lebih suka menulis tentang tema-tema kontemporer dewasa. Buku pertama “City of the Beast” bisa dilihat disini, dan buku kedua “Kingdom of the Golden Dragon” bisa dilihat disini.

Kali ini Kate Cold beserta kru fotografer majalah National Geographic dikirim untuk meliput perjalanan safari di Afrika. Seperti biasa, Kate menolak untuk berangkat bila tidak disertai cucunya Alexander ‘Jaguar’ Cold dan cucu angkatnya Nadia ‘Eagle’ Santos.

Pesawat Cessna yang mereka tumpangi mengalami kerusakan parah ketika harus mendarat terpaksa di pedalaman hutan tropis. Keenam penumpang termasuk sang pilot, Angie, dan Brother Fernando, misionari yang sedang mencari kawan-kawannya, selamat. Dengan membayar sampan asing yang kebetulan lewat, mereka meminta diantar ke daesa Ngoube karena Brother Fernando memaksa untuk melanjutkan pencariannya. Sampan tumpangan tersebut hanya mau membantu mereka untuk sekali jalan, dengan terpaksa yang lain harus mengikuti keinginan Brother Fernando tersebut. Kru National Geographic dengan senang hati bisa meliput berita lain yang lebih menarik, sedangkan Alexander & Nadia tidak pernah menolak untuk terlibat petualangan-petualangan baru. Hanya Angie yang benar-benar berat hati harus meninggalkan pesawat kesayangannya di negeri antah berantah.

Daerah Bantus terkenal dengan kezaliman pemimpinnya: Raja Kosongo bisa membuat bumi bergetar ketika ia berpijak di tanah; lalu Commandamant Mbembele yang bengis dan tidak mengenal kasihan; dan terakhir Sombe, ahli sihir kegelapan yang sakti luar biasa.

Rakyat Bantus dan manusia Pygmies hidup tersiksa di Ngoube. Meskipun rakyat Bantus tidak diperbudak, mereka tidak memiliki hak dan hidup dalam ketakutan. Penguasa Ngoube tidak segan-segan memerintahkan hukuman fisik terhadap para penduduk. Beberapa dari mereka terlihat kehilangan daun telinga bahkan nyawa mereka berpotensi untuk berakhir didalam sumur buaya.

Kehidupan manusia-manusia Pygmies lebih parah lagi. Mereka adalah budak bagi semua orang. Karena tubuh mereka yang kerdil, mereka dianggap bodoh dan tidak bisa apa-apa selain menjadi pesuruh. Dengan bantuan dan provokasi dari Nadia dan Alexander, mereka terbukti cerdas dan pemberani. Wajah-wajah kosong mereka hanyalah tipuan untuk menghindari interaksi yang berlebihan dengan para tentara.

Desa Ngoube berubah drastis setelah kedatangan teman-teman asing ini. Bukan tanpa bahaya mereka berhasil membuat manusia-manusia Pygmies menjadi lebih percaya diri untuk melawan penguasa-penguasa jahat dan mengambil alih tanah mereka kembali. Pedalaman hutan bukan tempat untuk berbicara hukum dan keadilan, mereka hanya mengenal sihir dan uji kekuatan. Beye-Dokou harus berhadapan langsung dengan Commandamant Mbembele dengan tangan kosong, tanpa senjata. Dengan jimat-jimat dan bantuan roh dukun-dukun sakti dari pedalaman Amazon dan pegunungan Himalaya, manusia-manusia Pygmies dan rakyat Bantus bisa kembali berkuasa di tanah mereka sendiri dengan Ratu Nana-Asante sebagai pemimpin mereka.

Kalau “City of the Beast” penuh tantangan dan kejutan, “Kingdom of the Golden Dragon” dangkal dan kurang mengasyikan, buku “Forest of the Pygmies” ini yang kocak buatku. Tokoh-tokohnya komikal dan percakapan mereka (terutama antara Angie & Brother Fernando) bisa bikin senyum pembaca terkulum-kulum, hehehe… Jalan ceritanya menarik, tetapi bagian akhir yang melibatkan dukun Walimai dari Amazon dan Lama Tenzing dari Himalaya agak ‘maksa’. Aku pikir tidak perlu mereka dilibatkan lagi dalam cerita ini. Meskipun jimat pemberian mereka masih melekat erat pada Alexander dan Nadia, petualangan dengan dengan kedua orang sakti tersebut seharusnya sudah berakhir dalam dua buku pertama.

7 thoughts on “Forest of the Pygmies [Isabel Allende]

  1. Kayanya seru ya…aku jadi pengen baca serial ini, dr dulu belum kesampean…aku baru namatin seri narnia sampe buku terakhir =) sampe” thesis terlantar, hahaha….

  2. >astrid
    aku malah narnia ga selesai2 :p dua buku lagi tp ngantri gt bacanya. ntar malem balik ke auckland, liburan dah berakhir, selamat tinggal disneyland hahaha… mudah2an di pesawat sempet baca buku ;) goodluck bwt thesis ya jeng!

    >indres
    menurut allende dia ga mau nulis novel anak/remaja lg setelah ini. tp di sini alexander sm nadia udah mulai dewasa sih, mulai ada rasa-rasa cinta gitu. sapa tau allende malah nglanjutin ini dgn novel petualangan dewasa yah! can’t wait.

    >boy
    sip! lewat juraganbuku ya, boy? ;)

    >sherlock
    di bagian ‘presentation’ kan banyak pilihan template tuh, click aja salah satu, ntar terganti sendiri kok.

  3. kalo itu kayaknya ga bisa, kecuali kalo pake hosting wordpress trus yg lain2nya dikelola sendiri. blog-nya dewi (tristania-angina) sama dhika (dirgaa) kalo ga salah pake cara ini, coba deh liat2 kesana (kaya shopping yak!).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s