City of the Beasts [Isabel Allende]


 

Penulis/Author: Isabel Allende (2002)
Penerbit/Publisher: Harper Perennial
Cetakan/Edition: 10, 2004
Kategori/Category: Fiction
ISBN: 0-00-714637-x

Setelah absen sekian lama dari dunia buku dan blogging, akhirnya aku berhasil menamatkan sebuah buku lagi. Wah… rasanya seperti meraih sebuah achievement penting loh! Buku ini aku beli sambil lalu karena selain harganya murah (hanya $19.99) dan sampulnya keren, dia juga terletak di deretan buku anak dan remaja sehingga aku boleh meminta stempel untuk kartu “beli 10 gratis 1”. Alasan yang cheeky memang :p

Jujur saja, aku agak pesimis sebelum membaca buku ini. Kalau buku bagus kok harganya murah meriah? Soalnya rata-rata buku di sini dihargai diatas $21. Kalau buku bagus dan bestseller biasanya malah berkisar antara $25-$30 loh. Ketika membaca beberapa halaman pertama aku mulai tersedot kedalam tutur kata Allende yang penuh imajinasi dan berkarakter, sampai-sampai aku lupa switch mode kalau ini adalah bacaan remaja dan anak. Benar-benar serius! Aku baru sadar ini buku remaja ketika membaca tokoh utamanya, Alexander Cold, berusia 15 tahun. Loh kok? hehehe…

Ketika kesehatan ibunya semakin memburuk, Alexander dan adik-adiknya terpaksa harus dikirim untuk tinggal dengan para nenek karena sang ayah harus membawa ibu mereka ke kota lain untuk mendapat perawatan yang lebih baik. Alexander dititipkan kepada Kate Cold, seorang penulis artikel terkenal yang agak nyentrik dan sedikit berandalan, neneknya dari pihak ayah. Kate punya cara tersendiri untuk mengajar anak dan cucunya yang terkadang terasa kasar dan semena-mena. Jauh di lubuk hati yang paling dalam, Alexander benar-benar tidak ingin tinggal dengan Kate yang tidak suka dipanggil grandma ini. Pernah suatu kali Kate memergoki Alexander sedang merokok diam-diam, Kate langsung mengajak Alex untuk mengunci diri di dalam mobil dengan kaca tertutup dan merokok sepuas hati sampai Alex meraung-raung minta ampun karena ingin muntah dan sulit bernapas. Sejak itu, Alex ogah bila harus menyentuh rokok.

Karena tidak mungkin ditinggal sendirian di New York, Kate terpaksa mengikutsertakan Alexander dalam ekspedisinya ke Brazil untuk organisasi International Geographic tentang keberadaan Manusia Buruk Rupa di pedalaman Amazon yang kehadirannya selalu disertai bau busuk menyengat, bau yang bisa membuat orang-orang kehilangan kesadaran dari jarak beberapa kilometer. Sejauh ini belum ada orang yang pernah melihat Manusia Buruk Rupa, namun sudah banyak orang yang terpaku dan pingsan akibat bau busuk yang dibawanya. Dalam ekspedisi yang berbahaya ini ikut pula Profesor Ludovic Leblanc yang angkuh dan terkenal, ia seorang pakar tentang komunitas Indian pedalaman, lalu ada pula fotografer Timothy Bruce dan asistennya Joel Gonzales. Ekspedisi mereka ditemani Cesar Santos sebagai guide yang paham seluk beluk pedalaman beserta dengan Nadia, anak perempuannya yang fasih beberapa dialek Indian selain juga mahir berbahasa Inggris dan Portugis.

Kehadiran Alex dalam ekspedisi ini ternyata bukan kebetulan belaka. Bersama Nadia, Alex terlibat petualangan mistikal ketika ‘diculik’ oleh Manusia-manusia Kabut yang memiliki kemampuan untuk menghilang dari pandangan. Kehadiran mereka sudah diprediksi oleh Walimai, dukun Indian yang penuh hikmat, beristrikan seorang bidadari dan kasat mata bagi orang-orang awam. Manusia-manusia Kabut tinggal jauh di atas gunung di dalam Amazon. Suku mereka telah bertahan disana beribu-ribu tahun lamanya tanpa terjamah civilisation karena lokasi dusunnya yang tinggi dan terlindung oleh rimbunnya pepohonan dan kamulflase, sehingga tidak mudah terlihat dari pesawat atau helikopter. Alex dan Nadia merupakan tumpuan harapan Manusia-manusia Kabut agar mereka bisa bertahan dari jamahan civilisation yang suatu saat nanti tidak mungkin lagi dihindari, terutama karena semakin buasnya orang-orang politik dan tentara dalam mencari kota emas yang hilang, El Dorado.

Dua hal penting yang dipelajari Alex dan Nadia dalam perjalanan fisik dan spiritual mereka yang sarat petualangan dan bahaya ini:

  1. Menetapkan hati, mengendalikan pikiran dan mengalahkan rasa takut. Alex yang tadinya rewel dengan makanan belajar untuk mensyukuri apa yang ada. Ia menjadi lebih dewasa karena berhasil mengalahkan rasa takut dan dirinya sendiri. Begitupun Nadia yang selalu takut akan ketinggian, berhasil memanjat tebing tinggi hanya dengan kebulatan tekad untuk mencari 3 butir telur kristal yang ia lihat di dalam mimpi untuk digunakan menyelamatkan Manusia-manusia Kabut.

  2. Belajar memberi sebelum menerima. Semakin berharga sesuatu yang kita inginkan, kita harus pula memberi sesuatu yang sangat kita sayangi. Alex dengan ikhlas menyerahkan flute kesayangan warisan dari kakeknya demi mendapatkan tetes-tetes berharga dari mata air kehidupan untuk diberikan kepada ibunya setelah merayap berjam-jam di dalam kepekatan perut bumi. Nadia meletakan jimat pemberian Walimai yang selalu dipakainya ke dalam sarang dimana ia mengambil 3 butir telur kristal.

Lalu bagaimana dengan Ekspedisi Manusia Buruk Rupa? Ada yang percaya itu hanya legenda. Tidak demikian adanya bagi Alex dan Nadia yang sempat berkomunikasi dengan para raksasa peninggalan jaman purbakala itu bersama Walimai.

Buku ini pertama kali diterbitkan tahun 2002. Sebagai bukti kepopulerannya, buku ini adalah cetakan kesepuluh tahun 2004. Meskipun ditargetkan untuk pembaca remaja, buku ini tidak akan mengecewakan bagi pembaca dewasa. Adventurous and inspiring. Plotnya yang tidak mudah diduga membuat proses membaca semakin terasa menegangkan. Cara Allende menulis yang penuh deskripsi tapi tidak berlebihan, layak rasanya diacungi jempol karena berhasil menyita perhatian. Belum lagi kalimat-kalimat filosofis yang terkadang terdengar sederhana tapi jika dicerna lebih jauh terasa sangat dalam maknanya. Dari California ke New York, lalu ke Amazon hingga ke pedalaman ke atas gunung, benar-benar perjalanan yang penuh tantangan baik dalam cerita maupun untuk para pembaca. Semuanya diramu dengan lancar tanpa kehilangan karakter asli masing-masing lokasi. Rasa-rasanya pantas kalau buku ini diangkat menjadi sebuah film (yang sangat panjang karena sayang kalau ada bagian yang harus dihilangkan). Penutup yang melibatkan pertumpahan darah juga membuat buku ini layak diberi applause yang meriah. Bravo Allende! Mudah-mudahan ada penerbit yang berminat menerjemahkan ke Bahasa ya (atau sudah?).

7 thoughts on “City of the Beasts [Isabel Allende]

  1. Anonymous says:

    Isn’t the Internet amazing! With a little searching I found your site – kudos!! Great information and very useful. How long have you had this online?

    I’m in sunny Naples, FL. All the hurricanes have missed us – but just barely! Anyway – nice post!

    My site deals with mlm.

    All the best! Dave Jackson

  2. Rey, ini jadi seri loh… Alex pergi berpetualang bareng neneknya ke tempat-tempat yang lain. Sempet liat di perpus, kalau ngga salah, ada seri yg mereka ke China (atau tibet ya?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s