The Naughtiest Girl Collection [Enid Blyton]


 

Penulis/Author: Enid Blyton
Penerbit/Publisher: Hodder
Cetakan/Edition: Collection 2004
Kategori/Category: Children Fiction
ISBN: 0-340-89365-6

ENGLISH

Who doesn’t know Enid Blyton? I bet majority of us are familiar with her books such as Famous Five, Secret Seven, and Noddy etc. Last night, I was re-reading one of her books that I read for the first time back in 1988. It is very delighting to go back to those moments of good thoughts, naughty students, midnight feasts, friendship ties, lacrosse games at British’s boarding schools, schools that I used to dream about when younger. Nope, this isn’t the famous Malory Towers or the enjoyable St. Clare. This is the funny Naughtiest Girl series. Remember her?

Elizabeth Allen was very upset when she was sent to Whiteleafe. She did many nasty things to make her friends and teachers hate her and would urge her to go home. Though she is actually a nice, intelligent and lovable girl, Elizabeth is also a hot-headed and easy to get angry especially about things related to unfairness and bully.

On this book there are 3 titles assembled into one collection: 1) The Naughtiest Girl Again, 2) The Naughtiest Girl is a Monitor and 3) Here’s the Naughtiest Girl.

Even though she used to be the naughtiest girl during her first term, Whiteleafe School with its wise teachers and its good pupils had helped Elizabeth to change into a better person. Whiteleafe has a separate boarding for boys and girls, and it is inadvisable for students to break the rules (unless if they are on a secret mission for a midnight feast of course).

At the beginning of each term all students must place all of their money into the Big Box. Out from the box, students will be given two pounds each for their pocket money. With this money, they can use it to purchase stamps, stationeries or to buy some sweets. That way, no one is richer or poorer than the others. Once a week they also have a regular meeting to discuss all the important things that are happening or will took place in their school. The meeting is led by two head students William and Rita who are supported by 12 monitors that were chosen by the whole school. The teachers are also present, but they will not say any words unless their advices are requested. At the end of each meeting, William will write down the meeting results on “William Big Book” so that in the future they can use it as reference if needed. Elizabeth Allen is one whose name is quite often being mentioned on the book, either regarding her naughtiness or her kindness.

Enid Blyton’s Naughtiest Girl, Malory Towers and St. Clare were some books that had formed my idealism of life. All the wise thoughts and advices plus human characters on these books, which may sound too impractical for today’s way of thinking, are the base of the idealistic and dreamy world of mine. Blyton’s books always carry the same underlining messages that kindness, braveness, determination and loyalty will always return good fruits, while conceits, jealousy and laziness will lead to hard lessons.

The non-egoistical but naughty rather hot-headed Elizabeth had eventually become one of Whiteleafe’s best students through a long and precious process. Not only her, other students who used to hate Whiteleafe had also realised that it wasn’t the school that was bad but it was them who were so narrow-minded. A bad start with some determination and lessons will provide a pleasant ending. The world will be so much enjoyable if we give chances to others to change their bad behaviours, and we also keep supporting them with continuous encouragement. This pattern will be passed from one generation to the next. It is not surprising if Enid Blyton’s books are functional and still up-to-date even until today, right? (The Naughtiest Girl first book was published in 1942). For sure, I am going to enforce my descendents (if any) to read these books! Hahaha… ;)

BAHASA

Siapa yang tak kenal Enid Blyton? Semua pasti tahu serial-serial seru karangan beliau antara lain: Lima Sekawan, Sapta Siaga, Noddy dll. Nah, kali ini aku membaca (kembali) karya beliau yang dulu pernah kubaca sekitar tahun 1988. Senang sekali rasanya bernostalgia dengan masa-masa penuh petuah, kenakalan murid-murid, pesta tengah malam, persahabatan yang erat, pertandingan lacrosse di sekolah-sekolah asrama Inggeris, sekolah yang waktu kecil dulu selalu kuimpikan. Bukan, ini bukan seri Malory Towers yang terkenal itu, bukan pula seri St. Clare yang penuh cerita. Ini adalah serial Si Badung yang tak kalah seru dan kocak! Ingat?Elizabeth Allen mulanya marah sekali ketika ia dikirim untuk bersekolah di Whiteleafe. Ada-ada saja kelakuannya untuk menjengkelkan teman-teman dan juga guru-guru supaya ia bisa dikirim pulang. Meskipun aslinya ia adalah gadis baik hati, cerdas dan menyenangkan, Elizabeth mudah sekali tersinggung dan marah, dua sifat yang selalu membawanya kepada segudang masalah meskipun ia selalu bertekad untuk menghindari mereka.

Di koleksi ini ada 3 buku sekaligus dijadikan satu yaitu: 1) Sekali lagi si Paling Badung, 2) Si Badung Menjadi Pengawas dan 3) Ini Dia si Paling Badung.

Meskipun awalnya nakal luar biasa, sekolah Whiteleafe beserta guru-gurunya yang bijaksana dan juga pengaruh teman-teman telah memberikan pelajaran berharga pada Elizabeth untuk berubah. Di sekolah Whiteleafe, asrama untuk murid laki-laki dan perempuan tetap dipisah dan masing-masing tidak boleh melanggar aturan tersebut (kecuali kalau mereka sedang merencanakan pesta rahasia di tengah malam tentunya).

Di awal semester, murid-murid memasukkan semua uang yang mereka miliki ke Kotak Uang Bersama. Dari kotak ini pula setiap minggunya masing-masing murid diberikan uang saku sebesar dua pound untuk membeli perangko, peralatan menulis ataupun jajan. Dengan demikian, tidak ada murid yang lebih kaya atau lebih miskin dari yang lain. Seminggu sekali para murid mengadakan Rapat Mingguan untuk membahas hal-hal penting yang terjadi di sekolah, dipimpin oleh 2 ketua murid William dan Rita, dibantu oleh 12 pengawas yang telah dipilih bersama. Guru-guru pun turut hadir tetapi mereka tidak akan memberikan pedapat jika tidak diminta. Biasanya William akan menulis setiap hasil rapat pada Buku Besar sebagai acuan kalau-kalau suatu saat nanti diperlukan. Nama Elizabeth Allen termasuk yang lumayan sering disebut-sebut dalam buku tersebut, baik tentang kebadungannya maupun kebaikan hatinya.

Boleh percaya atau tidak, serial Si Badung, Malory Towers dan St. Clare karya Enid Blyton adalah buku-buku yang turut membantu membentuk pola pikirku. Sampai sekarang, petuah-petuah bijaksana dan karakter manusia yang mungkin di jaman sekarang terasa mengada-ngada adalah salah satu idealisme dasar yang selalu kujadikan referensi. Buku-buku Blyton selalu memberikan pesan tersirat bahwa kebaikan, keberanian, keteguhan hati dan juga kesetiakawanan selalu berupah baik, demikian pula kesombongan, iri dengki juga kemalasan akan memberi pelajaran berharga.

Elizabeth yang tidak egoistis tapi lumayan badung dan pemarah akhirnya menjadi salah satu murid yang dibanggakan Whiteleafe. Tidak hanya Elizabeth, murid-murid lain yang pada awalnya tidak menyukai Whiteleafe pun akhirnya menyadari bahwa bukan sekolah mereka yang buruk, tetapi merekalah yang bersikap memusuhi dan menutup diri. Awal yang buruk dengan kemauan dan pengajaran akan dapat berakhir dengan baik. Intinya, alangkah indah dunia kita jika kita mau memberi kesempatan pada orang lain untuk berubah, dan turut membantu mereka mencapai perubahan itu dengan bersikap suportif dan menyemangati. Pola ini akan berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tidak heran bukan kalau buku-buku Enid Blyton tidak pernah lekang oleh jaman? (Seri si Badung pertama kali diterbitkan tahun 1942). Yang pasti anak-cucuku nanti (kalau ada) akan kuwajibkan untuk membaca buku-buku ini, hahaha… ;)

10 thoughts on “The Naughtiest Girl Collection [Enid Blyton]

  1. jadi ingat masa SD dulu… sempat punya koleksi lengkap seri sekolah asramanya Enid Blyton, tapi akhirnya banyak yg hilang (biasa, yg pinjem ngga ngebalikin). BTW, suka baca seri madita dan seri panci ajaib?

  2. Aku juga dulu punya lengkap hasil lengseran dari sepupu yang juga hobi baca. Sampe ngimpi2 pengen sekolah asrama di Inggris hihihi… Madita aku punya lengkap, tapi Panci Ajaib belum tuh. Ntar aku cari ah koleksinya hahaha… Enaknya di Auckland, buku2 kaya gini gampang dicari. Coba kalo di Jakarta waaah… Suka Astrid Lindgren jg ya ‘Ndres?

  3. Khabar baik Nge, dikau sendiri gimana? Aku suka ngumpulin semuanya, meskipun 5 sekawan tidak terlalu lengkap. Kalau Alfred Hitchcock & Trio Detektif aku punya hampir sebagian besar.

  4. Florentinaaa says:

    Si kembar bikin kepengen sekolah di asrama beneran. Apalagi kalo pas abis pulang dari liburan. Banyak makanannya! Hehehe… Dari Enyd juga aku tau kalo orang prancis tu gengsian banget ma englishmen.

  5. iya tuh aku sampe suka ngiler sendiri kalo mereka lagi pesta tengah malam trus minumnya ginger ale. waktu itu kesannya ginger ale sedaaaap banget! padahal sih begitu tau rasanya, hahaha… biasa aja :p

  6. kue jahe itu enak! kalau menjelang natal biasanya toko-toko kue suka bikin stok biskuit jahe. ada juga yang bentuknya bun, seperti roti kecil bundar, yang di tengahnya diolesi krim… yuuuum ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s