The Prince and the Pauper [Mark Twain]


 

Penulis/Author: Mark Twain
Penerbit/Publisher: Puffin
Cetakan/Edition: Abridged Edition, 17 (1994)
Kategori/Category: Classic Fiction
ISBN: 0-14-036749-7

ENGLISH
Tom Canty was a beggar. He always dreamt to meet the real prince. From Father Andrew’s books and teaching, Tom learnt Latin as well as the knowledge of the royals’ life. With his imagination and improvisation, he had the ability to copy the way the royals talk and behave.

Tom switched his place with Prince Edward by accident. They were trying each other’s clothes when the prince decided to go out to admonish the guard who was being rude to Tom. The prince forgot that without his grand clothes and the crown, it would be difficult for people to recognise him as the prince. Without delay, he was kicked out from the palace.

Edward’s life outside the palace was really tough, especially because he was not used to poverty and inconveniences. His stubbornness of keep introducing himself as the Prince of Wales, the King’s son, only led him to further mocking from the public. His ‘adventure’ outside the palace, apart from getting himself some troubles also helped him to learn that there were loads of injustices on the English laws authorised by his late father, King Henry VIII.

The name of Samuel Langhorn Clemens was not as well-known as Mark Twain, but both names belonged to the same person. This is my first opportunity to read his book. His other two books that are more popular are “The Adventure of Huckleberry Finn” and “The Adventure of Tom Sawyer”. The book I read is from the abridged edition, published first time in 1881. Some of the texts are still in the old English spelling which was rather funny and difficult to understand.

“The Prince and the Pauper” was satirising the English laws applicable under the sensational Henry VIII. The reign of Henry VIII itself was 300 years before the book was written by Mark Twain. Some of the sarcasms were regarding the execution command upon Duke of Norfolk and also about criminal cases during that time that always led to final execution of boiling to death, beheaded or hang, even though most of the cases were lacking of proper evidences.

Two things that worth underlining from this story:

  1. Physical appearance could be misleading but it was proven to be essential and decisive. Without his robe and crown, even though the prince could prove he had much uncommon knowledge, he would still be treated as a commoner (read Chapter 31).

  2. When in-charge in a high position, there are two things that can be done: to make changes for the better or to be ignorant and lose identity, trying to take as much pleasure as possible. Tom did both when he was on the prince (and the king)’s position.

Click here to read the story from the net or click here to learn more about Henry VIII. Two months ago, I wrote a synopsis of “The Other Boleyn Girl“, a fiction book written by Phillipa Gregory, which also tried to tell a little story about King Henry VIII.

BAHASA
Tom Canty yang sehari-hari hidup sebagai pengemis, selalu bermimpi untuk bisa bertemu dengan pangeran sungguhan. Dari pelajaran dan buku-buku Pastor Andrew, Tom belajar bahasa latin dan juga mendapat sedikit pengetahuan tentang kehidupan kerajaan. Ditambah dengan imajinasi dan improvisasi, ia pun mengerti tata krama berbicara dan sikap tubuh para bangsawan pada umumnya.

Tom bertukar tempat dengan Pangeran Edward tanpa sengaja. Awalnya, mereka hanya bertukar pakaian di dalam kamar. Ketika pangeran pergi ke luar untuk menegur penjaga yang telah bersikap tidak sopan pada Tom, ia lupa, tanpa pakaian kebesaran dan mahkota belum tentu orang mengenalinya sebagai putera mahkota Inggeris. Tanpa ampun ia dilempar ke luar istana.

Kehidupan Edward di luar istana tidaklah menyenangkan, apalagi ia bukan orang yang terbiasa dengan kesusahan dan tekanan. Sikap keras kepala a la putera mahkota pun tidak pernah lepas darinya. Meskipun dengan pakaian compang-camping, ia tetap mengenalkan diri sebagai Prince of Wales, pangeran kerajaan Inggeris. Alhasil, olok-olok pun semakin sering ia dapatkan. ‘Petualangan’ sang pangeran di luar istana bukan tanpa hasil. Ia bertemu dengan orang-orang yang membuka matanya mengenai hukum dan keadilan timpang yang disahkan mendiang ayahnya, Raja Henry VIII.

Nama Samuel Langhorn Clemens memang tidak setenar Mark Twain, tapi dua-duanya adalah orang yang sama. Baru kali ini aku berkesempatan untuk membaca salah satu karyanya. Dua karyanya yang lebih terkenal adalah “The Adventure of Huckleberry Finn” dan “The Adventure of Tom Sawyer”. Buku yang aku baca adalah edisi yang dipersingkat, pertama kali ditebitkan tahun 1881. Sebagian dari teksnya masih tertulis dengan ejaan Inggeris lama.

“The Prince and the Pauper” sarat dengan sindiran halus atas hukum Inggeris semasa rezim Henry VIII yang memang penuh sensasi. Padahal, Henry VIII berkuasa kurang lebih 300 tahun sebelum fiksi ini ditulis. Sindiran-sindiran tersebut antara lain tentang perintah eksekusi terhadap Duke of Norfolk dan juga tentang banyak kasus kriminal dimana para tertuduh diadili sepihak tanpa bukti-bukti yang memadai, dan biasanya mereka semua berakhir pada hukuman eksekusi baik di hukum rebus, dipenggal ataupun di hukum gantung.

Dua hikmah yang bisa aku petik dari cerita ini:

  1. Penampilan meskipun bisa menyesatkan, terbukti penting dan menentukan. Sampai kapanpun si pangeran dengan sikap dan tutur kebangsawanannya ditambah segudang ilmu yang tidak dimiliki orang biasa, tanpa jubah dan mahkota ia tetap bukan pangeran (baca Bab 31).

  2. Ketika memiliki kedudukan, ada dua hal yang bisa dilakukan: membuat perubahan kearah yang baik atau menjadi takabur dan berusaha menikmati semua keindahan. Tom melakukan keduanya ketika ia menjadi pangeran (dan raja).

Silakan klik disini untuk membaca kisah ini dari internet atau klik disini untuk membaca sedikit cerita tentang Henry VIII. Dua bulan yang lalu, aku membuat sinopsis buku “The Other Boleyn Girl” karya Phillipa Gregory yang juga mencoba berkisah secara fiksi sedikit tentang Henry VIII.

12 thoughts on “The Prince and the Pauper [Mark Twain]

  1. to Perca: terjemahan dalam bahasa ya? wah enak tuh aku juga mau. susah baca bhs inggeris kuno! lieur kata org sunda mah :p

    to Dewi: hehehe, nggak kebalik tuh? bukanya barbie yg bikin cerita kayak Mark Twain?

  2. hmmm boleh, tp ntar ya. aku coba baca novelnya lagi. soalnya dah lupa-lupa inget siapa aja yg ada disitu, sinopsis diatas kan buat ngingetin jalan cerita secara garis besar aja.

  3. >robert

    1) edward tudor -> putra mahkota inggris. baik hati, terpelajar, bijaksana. di dalam maupun di luar istana tidak sekalipun dia mau menyangkal kedudukannya sebagai putra mahkota.

    2) tom canty -> miskin, pemimpi namun baik hati. sempat menyangkali ibunya ketika diarak sebagai raja.

    3) sir miles hendon -> ksatria kerajaan yang terhormat dan setia. banyak membantu edward selama ia hidup di luar istana.

    4) john canty -> ayah dari tom. pencuri, pemabuk, berhati busuk.

    terlalu banyak tokoh kalau harus diuraikan satu persatu. ini aku kasih 4 tokoh utama aja. settingnya london abad ke-16. lebih lanjut mending baca bukunya deh biar afdol, lewat ebook juga bisa: http://www.classicreader.com/booktoc.php/sid.1/bookid.1381/. have fun :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s