Bukan Saya, Tapi Mereka Yang Gila! [Stefani Hid]


Penulis/Author: Stefani Hid (2004)

Penerbit/Publisher: Kata Kita

Cetakan/Edition: Pertama Februari 2004

Kategori/Category: Fiksi ISBN: 979-98302-1-4

BAHASA

Aku benar-benar speechless sehabis membaca novel ini, rasanya nggak karuan karena seperti habis membaca buku harian seseorang yang aku kenal dekat. Benar-benar sialan, bikin gemas saja!

Adalah Nian seorang remaja dengan perilaku ‘dewasa’ yang menjadi tokoh utama novel ini. Kesulitan dan pergolakan hidupnya timbul akibat sang otak yang tidak pernah berhenti bekerja, menganalisa, menakuti diri sendiri sehingga mengidap banyak phobia dan menempatkan standar diri sebagai tolok ukur. Seorang perfeksionis. Akibatnya dia seperti hidup sendirian karena menolak dan (mungkin) ditolak yang tidak sejalan dengannya. Bukan karena dia tidak menyukai mereka, tapi karena dia tidak ingin disakiti dan dianggap gila karena ketidaknyambungan itu.

Orang tua Nian bercerai dan mereka hidup terpisah-pisah. Ayah di Surabaya, Ibu dan Ayah baru di Amsterdam, sedangkan Nian dan adiknya Kian tinggal dengan Oma-Opa di Jakarta. Nian hanya memiliki seorang teman, Putri. Putri pun bukan orang ‘biasa’. Tetapi karena ketidakbiasaan itulah mereka cocok dan tidak menghakimi satu dengan yang lain.

Akibat tugas meliput di kantor DPR, Nian menjadi dekat dengan Keken yang anggota dewan. Usia mereka terpaut 27 tahun. Obsesi Nian pada Keken adalah akibat keterbuaian dan ketidakrelaan untuk kehilangan sesuatu yang tidak pernah ia punya sebelumnya: perhatian ekslusif dan petualangan otak serta jiwa yang melampaui akal sehat. Lagipula, dalam perjalan mereka, perasaan jualah yang akhirnya memegang peran. Nurani memang tidak bisa dibohongi tetapi bisa diarahkan. Aku tidak setuju ini disebut kebodohan, sama seperti seseorang yang aku hubungi tadi pagi sehabis membaca buku ini, ia juga menolak kalau hal ini disebut kebodohan. Aku bilang ini keterbuaian, ia tetap tidak setuju.

Apakah buku ini untuk remaja? Terus terang aku tidak yakin buku ini layak dibaca remaja karena ke-vulgar-an adegan seksual yang bertaburan. Aku keberatan jika buku ini dibaca mereka. Apakah buku ini untuk orang dewasa? Bukankah si penulis masih sangat muda untuk mengajari orang dewasa tentang hal ini? Bagaimana mungkin dia mengerti pergolakan bathin yang sedemikian! How come?! Aku menyerah, aku saja yang sok naif (Wake up Rey! The world has changed!). Buktinya dia tahu, dia mengerti dan dia menuliskannya di buku ini dengan segala khayalan, riset ataupun pengalaman pribadinya.

Selain memakai banyak kosakata medis untuk menjelaskan keadaan psikis Nian, novel ini juga menyelipkan percakapan bahasa Jawa yang kadang aku pahami kadang tidak. Yang penting aku tahu maksudnya. Dua hal yang mengingatkanku bahwa penulis buku ini adalah seorang yang baru beranjak dewasa adalah sisipan lirik-lirik lagu remaja milik Eminem, Kavana dan Sasha serta penutup cerita yang melibatkan Zarathustra dan Tuhan. Sepengamatanku, pencarian pembenaran akan eksistensi Tuhan sangat gencar di masa remaja dan perkenalan dengan Nietzsche akan meningggalkan kesan mendalam terhadap pembacanya. Meskipun sepertinya ingin mengeksplorasi lebih jauh, tapi aku senang Stefani tidak melakukannya. You never know where your head will lead you girl…

Sisipan bahasa Inggris pada novel ini agak timpang akibat perbedaan gaya dan pemilihan kata. Lirik lagu-lagu yang dipakai terasa penuh percaya diri dan lugas, sedangkan sisipan lainnya terasa dibuat hati-hati tapi dengan kesalahan (cetak?). Bukan masalah besar sih, toh bukan itu inti ceritanya.

“Aku kirim SMS lagi: Hello Sweet, I’m so like you (jawabnya via sms aja ya).” (p.35)

Penyelesaian konflik yang dramatis terasa dipaksakan buatku, meskipun dari tengah cerita penulis sudah memberi sinyal kearah dramatisasi itu. Benar-benar pikiran gila. Kau membuatku merasa gila dan aku (sudah mulai) takut untuk dibilang tidak waras.

ENGLISH

I was speechless after reading the book. It felt like I was reading someone’s diary, someone that I know well. This book drove me (half) insane!

Nian, the main character of the book, is a teenager with ‘mature’ attitudes. Her complicated life is basically resulted from her active brain that keeps on working, analysing, giving pressure to herself so that she has loads of phobias and she uses her own personality as the benchmark for everyone. A perfectionist. She seemed to live alone because she rejected people who weren’t inline with her thoughts as she was rejected by them. It wasn’t because she dislikes them but merely she has the urgency to protect herself and her feelings.

Nian came from a broken family. Her father lives in Surabaya, mother and new father in Amsterdam, while Nian and her sister Kian lived with their grandparents in Jakarta. Nian has only one friend, Putri, who is also ‘not-an-ordinary-kind’ of person. Their uncommonness made them best friend because they never judge each other.

When Nian got the chance to journalise the parliament activities, she connected with Keken, one of the parliament members. Keken is 27 years older than she. Nian was spell-bound to his charm and she was unwilling to give up on him. She had just experienced something that she never had before: an exclusive attention and a mental adventure that went beyond her brain and mind-power. Besides, in the end, emotion and feeling did take part on their relationship. Heart cannot be refuted but is definitely bendable. I disagree if this is classified as foolishness, the same with someone who I called this morning after reading the book, who also disagreed with the word “foolishness”. I thought this is a state of intoxication, that someone still disagreed.

I don’t think the book is suitable to be read by teenagers because the vulgarity of sexual actions that scattered everywhere on the book. Is the book for mature readers? But the author is very young! How could she understand mature activities as such, as well as empathising the unrest of an inner-self as complicated as those? How come?!! I gave up (sigh). It was proven that she did know, she did understand thus she wrote about it. It was either with her imagination, her research or it might be her own experience.

The novel uses quite a few medical terminologies in explaining Nian’s psychic. It also uses some Javanese conversations that I didn’t understand word-by-word but I knew what they mean in general. There are two things that confirmed me that the author is a young adult. The first one is the insertion of song lyrics from Eminem, Kavana and Sasha and the second one is from the epilogue which involves Zarathustra and God. In my opinion, it is usually on the teenager’s age when individuals are more enthusiastic on raising the question about the existence of God, and the introduction to Nietzsche would leave a strong impression. I felt that the author wanted to explore more on the theme but I am glad she didn’t go further. You never know where your head will lead you girl…

Because of the different style of English being used on the novel, it gave me an unconnected feeling from one page to another even though all wordings were used to explain about Nian’s heart-to-heart.

I believe the dramatic ending was unnatural although the author had led the readers to that direction since the middle of the novel. A wild imagination indeed. You made me feel weird and I am getting afraid to be called odd.

PS: Buat Bunda di Jakarta, terima kasih atas kiriman buku ini. Love you always ;) Aku yakin kalau beliau tahu isinya, belum tentu aku bakal dikirimi, hahaha…

8 thoughts on “Bukan Saya, Tapi Mereka Yang Gila! [Stefani Hid]

  1. Rey, kalau pemakaian bhs inggrisnya dalam dialog, saya malah masih bisa menoleransi…mungkin itu memang gaya si karakter jika mereka bicara. Kan biasa tuh, terutama di jkt, ngomong dicampur-campur inggris-indonesia (walau dengan dengan tatabahasa yg ngaco). Yang mengganggu justru kalau pengarang sbg orang ketiga mendeskripsikan sesuatu dalam bahasa lain selain bhs Indonesia, padahal ada kata padanan bahasa Indonesia yang sesuai. Lebih mengganggu lagi jika tatabahasa dan ejaannya salah.

  2. Kau yg lama di LN msh jg terkaget-kaget dg fenomena seks bebas di kalangan remaja Rey? Aku pernah iseng ke PI Mall dan Plaza Senayan pd suatu mlm minggu dan aku mendapati di sana para ABG (mgkn msh SMP) berpakaian dan berdandan yg serba “menawarkan diri”. Konon, mrk itu bisa “dipake”. Bbrp dg ringannya berciuman di lobby bioskop 21. Aku jg terkejut-kejut sih hehehe. Ah…brkl memang zamannya sdh begitu.

  3. Aku punya adik yang sepantaran si penulis sih Ca, makanya aku agak terbeban kalau mereka ikutan baca. Mungkin karena merujuk ke adik sendiri sih makanya jadi aku sok over-protektif. Padahal kalau mau jujur sih pola pikir mereka berkembang jauh lebih pesat dalam hal kematangan dibanding generasiku.

  4. Terlepas dari kekagetan dan kekaguman aku atas keberanian penulis dalam tema dan cara penyampaian cerita ini, aku sungguh tidak ingin menilainya dari sisi moralitas. Makanya aku bilang aku yang jadi gila karena pemahamanku sendiri hahaha… -> gila beneran :p

  5. Eh error nih… tadi udah nulis kok ilang?? Hi Ndres, maksud aku timpang tuh karena suasana hati yang digambarkan dengan ‘comotan’ lirik lagu dengan yang dibuat langsung, terasa seperti dari dua orang yang berbeda. Jadi nggak nyatu gitu deh gayanya.

    Tapi pas baca yang di box itu aku berasa nggak nyaman, soalnya karena lagi pdkt kupikir maksud kalimatnya mo bilang “aku suka kamu” bukan “aku mirip denganmu” hehehe… :D

    Kalo masalah tatabahasa, walaaah… lirik lagu Eminem tau dong gimana susunannya, hehehe… Aku setuju denganmu, kalo kalimat percakapan bisa agak ‘nyleneh’ tergantung yang bicara. Aku inilah contoh yang agak nyata, hahaha…. Sutralah :p

  6. unik says:

    hey smua.. terlepas dari kekurangan yg ada dinovel itu, jujur deh.. utk penulis kelahiran 85, novel itu ok khan..keren gt buat gw.. dan gw ga nyangka ada orang seumuran gw yg bs punya imajinasi setinggi itu.. pernah baca novel lain yang mirip2 kaya “bukan saya, tapi mereka yang gila!” ga?kasih tau dunks..kali aja gw blom baca..
    tnx

  7. hey, thanks for such a review ;-) nice. dan memang mestinya buku ini dibaca oleh yg 17+ kali yah. karena aku juga sangat obsessed dengan preserverance of the innocent.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s