Student Hidjo [Mas Marco Kartodikromo]

Standard


Mas Marco Kartodikromo (1918)
Bentang
Fiksi
979-8793-95-1
Gramedia Melawai – IDR17,500

Pertama kali membaca novel ini tahun 2001 silam karena aku penasaran dengan novel yang katanya radikal. Ini kata seorang teman, tentunya. Namun setelah dibaca, aku tidak menemukan keanehan apapun dalam novel ini. Malahan aku mengganggap novel ini sangat nasionalis karena memberi kedudukan yang sederajat antara pribumi dengan kaum Eropa. Memang, keberanian penulisnya patut diacungi jempol. Mengingat saat novel ini ditulis, rata-rata orang Belanda yang datang ke tanah Bumiputera mengganggap diri mereka keturunan dewa dan berhak merendahkan siapapun yang bukan dari kaum mereka.

Hidjo adalah pemuda Jawa yang oleh ayahnya dikirim untuk belajar ke Belanda. Ayahnya berharap dengan menyekolahkan Hidjo sampai menjadi Insinyur di Belanda, bisa mengangkat derajat keluarga mereka, yang walaupun merupakan saudagar sukses, tetap dipandang rendah oleh pegawai pemerintahan saat itu. Ibu Hidjo dengan berat hati melepas kepergian anaknya karena khawatir dengan godaan-godaan perempuan Belanda yang dianggapnya terlalu bebas. Sepanjang novel, setting berpindah-pindah dari kehidupan Hidjo di Belanda, lalu ke kehidupan keluarga dan tunangannya di Hindia. Sekilas memang novel ini seperti drama pada umumnya, yang dimeriahkan kisah cinta beberapa segi karena melibatkan cinta yang dipendam, perjodohan bahkan selingkuhan.

Karena menyoroti kehidupan pribumi dari sisi priyayi, segala sesuatunya terlihat lebih bersih dan manusiawi. Orang-orang Jawa yang berpakaian bagus, berselendang sutera, memakai perhiasaan, anak-anak muda yang bahagia dan bebas mengemukakan pendapat, serta orang-orang tua yang berkata-kata halus dan bijaksana. Ini dikontraskan dengan kisah seorang sersan Belanda yang besar kepala dan tinggi hati. Padahal di negaranya sendiri ia hanya keturunan buruh kasar. Begitu mendapat kesempatan menjajah di Hindia, dengan cepat ia lupa daratan dan dengan brutal menghina orang Jawa dan pulau Jawa. Padahal justru disini dia dihormati, di banding dengan di negaranya sendiri. Ketika Hidjo sampai di Belanda, ia merasa luar biasa karena mulai sekarang ia bisa memerintah orang Belanda.

Novel ini ditulis hampir seabad lalu, ketika Hindia masih dalam pemerintahan Belanda. Mas Marco secara tersirat dan tersurat meyuarakan kegelisahannya atas perlakuan kaum Belanda yang tidak memanusiakan orang pribumi. Tidak semua yang berasal dari Belanda atau Eropa lebih tinggi derajat atau kecerdasannya dibanding wong Jawa. Hidjo dan keluarganya sesekali juga berbahasa Belanda dan mempraktekan kebiasaan-kebiasaan orang Eropa yang mereka anggap baik, sebagai contoh bahwa orang pribumi tidak berpikiran sempit tapi terbuka dengan perubahan.

“Maksud saya mengirimkan Hidjo ke Negeri Belanda itu, tidak lain supaya orang-orang yang merendahkan kita bisa mengerti bahwa manusia itu sama saja. Buktinya anak kita juga bisa belajar seperti regent-regent dan pangeran-pangeran.” (hal.3)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s