Kisah Tragis Oei Hui Lan: Putri Orang Terkaya di Indonesia [Agnes Davonar]

Standard

Agnes Davonar (2009)
Intibook, April 2011
Biografi
978-602-95752-0-0
Gramedia PIM – IDR55,000

Jauh sebelum negara kita ribet dengan perbedaan status antara pribumi dan non-pribumi, pulau Jawa memiliki seorang Raja Gula dari Semarang yang terkenal sampai ke manca negara. Kekayaan puluhan juta dollar menjadi warisan petaka di antara 8 istri dan 42 anak-anaknya, bahkan hingga saat ini.

Oei Hui Lan adalah anak kedua (dari istri pertama) Oei Tiong Ham, pria terkaya di Asia Tenggara yang juga dikenal sebagai Raja Gula asal Semarang. Hui Lan lahir dalam kemewahan. Sejak lahir Hui Lan dianggap membawa lebih banyak hoki untuk bisnis ayahnya. Sayangnya masa kecil Hui Lan jauh dari bahagia, karena ia tidak memiliki teman selain para pembantu dan binatang perliharaan. Pada ulang tahun yang ke 11, Hui Lan menanggung malu tak terhingga karena tidak seorang pun datang ke pesta ulang tahunnya. Padahal pesta itu adalah pesta impian Hui Lan yang dibuat khusus seperti pesta dansa di buku The Tatler dengan biaya sangat mahal.

Kehidupan Hui Lan sepertinya baik-baik saja, hampir selalu uang ayahnya bisa mencukupi semua kebutuhan dan gaya hidupnya dengan kemewahan yang berlebihan bahkan ketika ia tinggal di Eropa sekalipun. Ia menjadi ratu pesta, berpakaian mewah lengkap dengan perhiasan-perhiasan mewah. Ibunya berhasil membawa Hui Lan bergabung dan duduk sejajar dengan kalangan jet-set dan keluarga kerajaan Eropa.

Pernikahan Hui Lan dengan Wellington Koo, seorang diplomat yang kemudian menjadi menteri luar negeri Cina, membuat jalan hidup Hui Lan juga bersinggungan dengan para politikus, orang-orang penting dan peristiwa-peristiwa besar dunia seperti pembentukan PBB. Sayangnya, kepribadian dan pola hidup Hui Lan dan Wellington Koo sangat bertolak belakang. Ini yang kemudian hari menjadi duri dalam pernikahan mereka dan menghancurkannya. Hui Lan terbiasa dengan kemewahan, sedangkan Wellington Koo adalah abdi negara Cina yang hidupnya terfokus untuk membangun negara yang sedang terpuruk. Meskipun ia seorang diplomat, di luar negeri pun ia harus hidup bersahaja untuk menghormati kondisi negaranya.

Berawal dari sekadar browsing tumpukan buku baru di Gramedia beberapa bulan lalu, aku tertarik membeli buku ini karena penasaran. Siapa sih Oei Hui Lan sampai harus ada yang membuat biografinya? Jawabannya cukup membuatku tercengang. Garis pohon keluarga Oei Hui Lan merupakan bagian dari sejarah bangsa kita juga. Kalau dahulu kala negara kita dikenal di manca negara karena kekayaan alam yang tak terbatas, mungkin salah satu alasannya adalah karena Oei Tiong Ham yang memperdagangkannya ke luar negeri, sampai-sampai ia dikenal sebagai orang terkaya di Asia Tenggara! Ini adalah awal tahun 1900-an, jauh sebelum negara kita berbentuk Republik.

Selain menarik untuk dibaca, ada hikmah yang bisa dipetik dari kisah hidup Oei Hui Lan yang ditulis secara apik oleh Agnes Davonar ini. Uang bisa memfasilitasi apa saja yang kita mau, bahkan kebahagiaan sesaat yang bisa didapat dari barang-barang bagus dan kehidupan nyaman. Tapi bila tidak bijaksana, uang dan harta bisa dengan mudah menutup mata hati kita sehingga tidak peka melihat ke sekeliling. Apakah kita benar-benar bahagia? Apa yang lebih berharga, harta atau keluarga? Apakah ayah, ibu, saudara, istri atau suami kita bahagia? Sampai batas mana kita bisa bersyukur atas apa yang kita miliki dan kita bisa mengatakan cukup pada diri sendiri?

Hui Lan lahir di tahun 1899 dan tutup usia di tahun 1992. Setelah melalui begitu banyak kesedihan, di tahun-tahun terakhirnya Hui Lan belajar untuk mensyukuri apa yang ia miliki dan apa yang telah ia saksikan dari dunia ini.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s