Kutipan Isi Buku 5 cm. [Donny Dhirgantoro]

Standard

KUTIPAN ISI BUKU

Original Lines from 5 cm Dreams, Friendship, Passion, Courage, Perseverance and a Privilege For 60 years of our independent days Here are some of the original lines quoted from 5 cm, taken from 5 cm by Donny Dhirgantoro. Well, in fact, he sent this for me to share with all of you. Hope you enjoy it. MERDEKA!!!!!

“Untuk tanah merahku… sebagai sebuah hadiah ulang tahun ke 60″

“Ta…, ini yang lo bilang… samudra diatas langit?”

“Dari mana lo ‘Ple?” Arial bertanya ke Zafran. “Dari tanah air gue yang indah…”

“Iya apa yang gue takutin kalo gue bilang bisa, gue pasti bisa.”

“Cuma di puncak sana aja yang ada upacara tujuh belasannya?” Riani bertanya lagi “Enggak lah… kalo kita jeli hampir di tiap puncak di Indonesia tiap tujuh belasan pasti ada yang naik untuk upacara. Pers aja jarang merhatiin padahal keren kalo dibuat liputan…”

“Benerin gue kalo salah, zaman sekarang banyak orang yang hidup tapi nggak bener bener hidup” kata Genta sambil mengangkat dua tangannya dan jarinya memberi tanda kutip pada kata hidup.

“Inget nggak? Waktu itu malam minggu jam tiga pagi kita berhenti diatas jembatan semanggi terus teriak teriak dari atas jembatan tiduran tiduran di tengah jalan. Abis itu kita bengong bengong ngeliat sudirman dan gatot subroto yang lengang kosong tapi keren banget… lampu lampu jalan dan lampu gedung… bertebaran… kayanya Jakarta punya kita doang.”

“Jadi orang yang bisa membuat nafas orang lain menjadi sedikit lebih lega karena kehadiran kita disitu…karena ada kita disitu…”

“Kalo kita nanti sampai puncaknya berarti kita berada di tanah paling tinggi di Pulau Jawa.”

“…dan yang bisa dilakukan seorang mahkluk bernama manusia terhadap mimpi-mimpi dan keyakinannya adalah mereka hanya tinggal mempercayainya…”

“Gue nggak mau nyerah… karena gue nggak bisa nyerah…!”

“kaki pegel sih biasa, asal jangan tekad yang pegel”

“Setelah Doa, cuma disiplin yang bisa nyelamatin kita disini.”

“Mahameru itu bukan cuma perjalanan alam tapi perjalanan sebuah hati”

“Udah belum yaa, gue punya manfaat buat orang lain?” “Udah belum yaa, gue bisa ngasih sesuatu dalam diri gue yang bisa buat orang lain bahagia?”

“Ta…” “Iya Yan?” “Nanti kita akan kesana? Berdiri di puncak itu? Berdiri disana?” “Iya” “Tinggi banget Ta…” “Iya” “Bisa apa kita Ta?” Genta terdiam matanya masih lekat di puncak Mahameru yang masih terlihat kecil. Mata Genta terpejam. “Kita yakin kita bisa?” Tiba-tiba Genta menengok ke teman temannya dan menatap tajam satu-satu “Gue udah taruh puncak itu dan kita semua disini” Arial berkata pelan sambil membawa jari telunjuk ke keningnya. Genta tersenyum ke teman temannya. “Kalo begitu, yang kita perlu sekarang cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat keatas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja.” “Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya.” “Serta mulut yang akan selalu berdoa.”

“Lo inget tentang gua Plato yang gue ceritain waktu itu di Secret Garden?”

“Tapi suara suara disini Mas” Mas Gembul tiba tiba menunjuk keningnya. Mas Gembul melanjutkan kembali sambil menarik nafas panjang. “Suara itu bilang bahwa aku bisa… Aku pasti bisa. Dan entah kenapa aku bisa dengan badan segede gentong gini.”

…dan entah kenapa kamu adalah orang yang bagaimanapun jeleknya berita di Koran dan bobroknya negara ini kamu selalu yang pertama bilang kalo dari semenjak lahir cuma tanah ini tempat kita berpijak kita dan airnya yang menghidupi kita setiap hari. Sebobrok apapun negara ini kamu bilang kamu sangat mencintai negara ini. Dan Saudaraku, itu terlihat dimatamu dan setiap aku ingat itu kadang aku menangis lagi.

Suara sesegukan jelas terdengar diantara barisan pendaki kala Indonesia raya yang berkumandang memenuhi pendengaran seluruh mahkluk tuhan yang paling sempurna di hari itu.

“Berani keluar dari zona nyaman lo, buat ngadepin semua yang ada di depan lo…” Firman diam lagi… pikirannya kemana mana merenungkan kata kata sahabatnya yang udah dia kenal semenjak kuliah, yang dia sendiri mengakui kalo Genta itu, enggak pernah nyerah, berani dobrak semuanya, berani dikritik, berani nggak mapan.

“Kalo.lo.yakin.sama.sesuatu.lo.taruh.itu.disini… abis itu lo kerja keras semampu lo” Genta berkata dengan jeda sambil meletakan jari telunjuk di keningnya.

“Kalo kita mau sebenarnya kita bisa raih apa aja yang jadi mimpi mimpi kita…”

“Enggak pernah ada manusia yang kalah, cuma pelajarannya aja mungkin agak berat dibanding yang lain”

“Gue nggak pernah belanja VCD bokep pake bon!!!”

“Di luar negeri mana ada abis nonton the Groove nonton layer tancep…”

“Jangan pernah ada yang cengeng! Nanti kalo ada monster gimana? Minder dong kita… Masa Power Rangers cengeng?”

“yang penting kita jangan pernah ngomongin kejelekan orang kalo orangnnya nggak ada kita nggak akan bantu dia soalnya dia nggak ada disitu, dan emang kalo ada kejelekan orang langsung bilang aja ke orangnya… dengan itu kita bantu dia mengerti akan dirinya…”

“Alo… Saya Ian. Marketing Dufan sekaligus sebuah branded baru dari Dufan yaitu gajah bledug warna ungu yang bisa ngomong, tapi bukan telletubies, untuk diketahui gajah bledug merupakan salah satu wahana favorit di Dufan. Untuk membuat gajah bledug pun gampang. Semenjak anak-anak gajah bledug harus direndem dalam minyak tanah supaya melar dan menjadi besar seperti saya, lalu ulaskan sedikit cream pembesar tiiit sensor pada perutnya dan jadilah gajah bledug. Trus kenapa warnanya ungu? Mudah saja kasih juice terong tiap pagi. Tertarik menikmati wahana gajah bledug? Datanglah ke Dunia Fantasi. Saya ada penawaran baru bulan ini di Dufan masuk dua bayar satu dengan syarat…”

Seperti biasa Ian difoto pake handphone.

“Jadi kesimpulannya mulai sekarang gue jadi gurunya Genta dan Genta jadi murid gue. Kaya Socrates sama Plato.” “Tapi dua-duanya kan beda. Gue juga pernah baca kalo dari fisik Socrates itu orangnya pokoknya tidak menarik dan buruk rupa, sementara Plato itu ganteng abiss.” kata Ian “Haa??!!” Zafran yang merasa ganteng, mulai terganggu ego kevokalisannya. “Ya udah gue jadi Plato aja. Biar si Genta jadi Socrates.”

“Pagi… Oh maaf Mas baru minggu kemaren tuh kantor kita outing ke Taman Teletubbies yang baru itu yah. Waduh Taman Teletubies baru buka aja promosinya gede gedean sampe ngirim Tinkywinky ke kantor gini. Inget nggak sama saya? Kan saya kesana minggu kemaren.” Kali ini Ian disangka Tinkywinky dari gerombolan Teletubies yang kerjaannya maen mulu Tapi Ian udah kebal. “Maaf mbak saya bukan Tinkywinkynya Telletubies tuh di perut saya nggak ada TVnya” bela Ian sambil melihat baju ungunya. “Salah gue pake ungu, dikira Tinkywinky deh!” “Oh maaf…” kata Mbak Resepsionis, masih nggak percaya.

“Saudara-saudara, hari ini kita kedatangan tamu penting suatu kehormatan tersendiri. Saudara-saudara pasti ingat dulu bayi lucu dan gemuk yang ada tulisan no problem dibawahnya, sekarang bayi itu udah gede dan dia adalah salah satu murid bimbingan skripsi yang saya pegang. Saya bangga sekali.” “Saudara Ian silakan berdiri…” Ian pun kaget dan terpaksa berdiri. Semuanya tepok tangan. Mata Ian kacau semuanya berputar dalam slow motion putih biru kuning…. “Iya gila mirip lho… Gilee gedenya begini sama aja. Gemes-gemes” Pipi Ian dicubit. Ian difoto pake handphone blitz blitz putih. Ian stress. Ian diseruduk truk, abis itu kecebur got, gotnya ada radioaktif, radioaktifnya bikin Ian impoten, Ian pergi ke Ma Erot, Ma Erot lagi bete prakteknya di Arab nggak laku, Ian diusir Ma Erot, Ian berobat ke luar negeri, pesawat Ian jatoh, Ian di bawa kerumah sakit, Ian sadar, Ian nanya keadaannya ke dokter, Dokter jawab “No Problem” …Ian pingsan lagi. Ian nyesel udah bo’ong.

“Bu’e…kok malam malam masih jualan?” Riani bertanya sambil memegang bahu sang ibu. “Cari nasi Nak. Kalau ndak jual nasi, Mbok ndak punya uang” si Mbok menjawab dengan bahasa Indonesia sedanya dengan logat Jawa yang kental. “Suaminya kemana Mbok?” “Sudah meninggal” Riani tiba tiba menyesal menanyakan suami si Mbok. “Mbok ini aku kasih lebih ya, buat mbok. Tapi besok pagi mbok janji nggak usah ke pasar minta kardus,mbok tidur aja di rumah. Janji ya Mbok!” “Terima kasih ya Mbok, terima kasih banyak” Genta memegang bahu si Mbok. Mereka berempat berjalan masuk kekereta. Dinda dan Riani menyeka matanya dengan tissue. Diantara malam yang jauh, dingin dan asing, mereka masih bisa mendengar doa lelah si Mbok di telinga mereka.

Aku masih ingat saat reformasi tercapai dan Indonesia Raya berkumandang kita berpelukan dengan siapa saja yang kita temui di gedung itu biarpun tidak ada yang kita kenal. Aku masih suka menangis kalo inget kamu mencium aspal jalan Jakarta sambil mengucap syukur dan melihat ke langit senja Jakarta. Pemandangan itu yang nggak pernah aku lupa dan membuat keajaiban hati kamu yang selalu mencintai tanah air ini tak pernah hilang..di hati ku dan di hati teman teman…

Zafran membuka lagi matanya perlahan serombongan orang desa yang sedang menunggu kereta lewat di perlintasan, wajah wajah penuh senyum melihat kereta, petani dengan cangkul dan bakul selempang kain, ibu muda yang tertawa lepas dengan caping tani di tangannya, bapak tua berpeci dengan seragam guru tersenyum ramah ke para petani, anak kecil berseragam SD penuh tawa yang berlarian dan langsung mencium tangan sang guru… mulutnya mendesis pelan, “Negeri ini indah sekali…”

“Karena kita dulu yang teriak teriak anti KKN bukan? Masa kalo saatnya kita tiba jadi orang kantor atau punya bisnis sendiri, jadi manajer atau bahkan CEO kita KKN? Nah teriakan teriakan kita dulu waktu zaman reformasi itu buat apa?!” Di tempat gue sekarang kerja kan isinya kita-kita. Angkatan eksponen reformasi dulu yah. Jadinya kita janji kalo kita coba sama sekali nggak pernah dan nggak akan ngelakuin bisnis pake KKN segala. Mudah mudahan yang kaya gitu bisa kita jaga entah sampai kapan…” “Tapi itu susah kan ya Ta?” Arial bertanya pelan ke Genta. “Apalagi di dunia bisnis yang sikat sana sini, masih banyak yang kaya gitu” Dinda berkata pelan. “Iya susaaah banget… sumpah!” Genta berkata pelan sambil menunduk matanya menatap ke depan kosong.

“Emangnya ulang tahun anak kecil jam 4 yang pake undangan kartu kecil gitu sama jam kosong nanti kita gambar sendiri deh jarumnya…” Arial tertawa denger Indy ngomong barusan. “Yo’i yang tulisannya …pasti pake ch” sambut Arial. “Apa tuh ch?” “Datang yach ke ulang tahunku. Pasti acaranya rame banget nich”

Genta melihat rasi bintang Riani terpantul di permukaan Ranu Kumbolo.

Dan disini di Archopodo kamu tiba tiba menghilang dan kembali kepangkuan-NYA. Sudah beberapa tahun ini aku selalu kembali lagi kesini dan tidak pernah lupa membawa merah putih yang waktu itu kamu ambil di ruang BEM karena ingin kamu kibarkan di Mahameru…seperti tahun lalu bendera ini akan berkibar di Mahameru dan kamu boleh yakin, tahun ini sebentar lagi bendera ini akan berkibar di Mahameru… dan kami akan mengingat kamu setiap bendera merah putih berkibar di mana saja. Sebuah cinta memang harus diungkapkan, karena tidak pernah ada cinta yang disembunyikan,kecuali oleh seseorang yang terlalu mencintai dirinya sendiri.

Genta diam saja… dia memang mulai terasa lelah sekali, tapi dia tau kelima temannya ini mengandalkan dirinya dan dia nggak boleh menurunkan mental mereka. Untuk sekarang Genta adalah pemimpin di rombongan kecil ini dan pada saat ini dia nggak boleh ngeluh, nggak boleh ngomong nggak tau dan nggak boleh nggak bisa ngambil keputusan.

“Sampai jumpa dipuncak” Ian menepuk punggung Deniek.

“Disini. Kita. nggak .akan. pernah. tau” desis Deniek pelan. Deniek memberikan senyum sedikit sekali, yang membuat bibirnya tidak dapat terbuka lebar.

“Tempat ini menyeramkan…” “Ih..tempat apa ini…” “Serem banget…” “Sumpah gue merinding…!” “Kita di… Kalimati.”

Malam itu Genta tertidur bersama sang mahadewi,ibu yang telah memberikan tanah dan airnya setiap hari semenjak Genta lahir, ibu yang hilang dan baru saja ditemukannya malam ini .Di kaki Tumit gagah Mahameru,dipeluk dinginnya malam, sang ibu pun memberikan udara hangat penuh cinta melalui pelukannnya sambil tersenyum ke salah satu anaknya yang tidak pernah sedikit pun hilang di matanya. Air mata bahagia sang ibu sedikit menetes, sebagian hinggap di dedaunan menunggu pagi, sebagian jatuh membasahi tanah Ranu Pane.

“Biasanya kalo manusia ngerasain keindahan yang amat sangat dia secara reflek akan memejamkan mata dan membawa keindahan itu ke hati karena keindahannya nggak bisa diucapkan dengan kata kata atau diterjemahkan dengan cara apapun sama indera fisik, tapi sekarang kayanya disini teori itu bisa dibantah…”

“Iya apa yang gue takutin kalo gue bilang bisa… gue pasti bisa.”

Ah… kamu memang orang yang sangat mencintai tanah ini. Ingat kedua kalinya kita ke Jakarta? Waktu itu kita kembali berjalan diantara gedung gedung tinggi di depan kampus Atmajaya bersorak semangat reformasi dengan jaket almamater kebanggaan kita menuju ke gedung MPR? Inget nggak? Ada ibu-ibu dan bapak-bapak dijalan yang berteriak-teriak “hidup mahasiswa! hidup mahasiswa!” Atau nasi bungkus seadanya dari ibu-ibu yang kita lahap di trotoar Gatot Subroto. Kita seperti pahlawan perang yang di elu elukan. Aku kadang menangis lagi kalo inget bagaimana dulu kita menangis haru bahagia saat reformasi akhirnya tercapai. Kita berlarian senang berteriak teriak diantara lorong gedung rakyat naik keatapnya, melambaikan bendera merah putih diatas atap dan berteriak MERDEKA! keras sekali… di senja Jakarta, kata kamu waktu itu “pasti Tuhan mendengar kita” Aku selalu ingat itu!

“Ada orang yang mau nyerah, tapi gue bukan orang kayak gitu”

“Saya, Ian… saya bangga bisa berada disini bersama kalian semua, saya akan mencintai tanah ini seumur hidup saya, saya akan menjaganya, dengan apapun yang saya punya,saya akan menjaga kehormatannya seperti saya menjaga diri saya, seperti saya akan selalu menjaga mimpi mimpi saya terus hidup bersama tanah air tercinta ini…”

“dan yang bisa dilakukan seorang mahkluk bernama manusia terhadap mimpi mimpi dan keyakinannya adalah mereka hanya tinggal mempercayainya…”

“Manusia yang nggak percaya sama Tuhan? Sama saja dengan manusia yang nggak punya mimpi? …cuma seonggok daging yang punya nama.”

Sang pencipta tidak pernah memberikan apa yang manusia pinta, seperti cinta. Ia memberi apa yang manusia butuhkan.

“Keep our dreams alive and we will survive”

Donny Dhirgantoro

Comments are closed.